Rabu, 12 Juli 2017

"Diary Ramadhan Penuh Berkah 2017": Ramadhan di Antara Kepungan Rindu

vector created by Freepik


"Ramadhan Penuh Berkah Bersama Abutours & Travel"

Sepekan sebelum Ramadhan yang dinanti-nanti datang tahun ini, ayah meninggal dunia. Suatu kenyataan yang membuat hari-hari Ramadhan di keluarga kami mulai terasa berbeda. Ada tema besar yang telah berganti menjadi tema kehilangan. Aroma kehilangan menguar di setiap sudut rumah, di antara detik-detik pergantian waktu, dan dentang piring atau sendok di kala sahur.

Namun, meminjam istilah penyair Chairil Anwar, bukan kehilangan benar yang menusuk kalbu. Tetapi, kerinduan itu yang sungguh-sungguh merasuk ke sumsum tulang dan menghunjam. Kehilangan tidak datang kecuali bersama dengan kerinduan-kerinduan. 

Di rumah dan masjid besar di sekitar kami, Ramadhan dan ayah sulit dipisahkan. Ramadhan adalah ayah, dan ayah adalah Ramadhan. Setiap tahun jelang Ramadhan, ayah selalu terlihat sibuk di masjid. Membantu  kesiapan masjid menyambut tamu Ramadhan. Beliau memang pengurus masjid besar di dekat rumah. Beberapa tahun belakangan, ayah menjadi ‘ketua abadi’ panitia buka puasa Ramadhan di masjid.

Ambulans yang Membawa Ayah

Setiap sore saat Ramadhan, ayah sudah berjaga di masjid untuk menanti para penyumbang sajian buka puasa, dan mempersiapkan gelas atau piring yang akan digunakan. Pekerjaannya jelang berbuka adalah bagi-bagi kue dan minuman untuk para jamaah yang datang ke masjid.  Padahal, ayah adalah seorang kepala sekolah. Anggota panitia buka puasa yang lain rata-rata ‘hanya’ petani, tukang parkir, dan penjual. Di masjid, ayah melepaskan jabatan kepala sekolahnya dan memilih untuk berbaur dan setara dengan yang lain.

Di sekolah, ayah tidak mungkin menyapu, mengepel, dan menata sepatu siswa. Tetapi di masjid, ayah menyapu, mengepel, dan menata sandal para jamaah. Terkhusus saat Ramadhan, ayah sungguh semakin sibuk.

Beberapa hari sebelum dirawat di rumah sakit, ayah masih sempat mengurusi daftar penjamu buka puasa untuk menyambut Ramadhan tahun ini. Tidak ada satu pun dari kami yang menyangka bahwa ayah ternyata tak lagi sempat memasuki bulan Ramadhan yang dinanti-nantinya. Allah SWT telah menjatuhkan takdirnya.

Ramadhan ini benar-benar menguji keluarga kami. Rasa rindu mengepung kami dari seluruh arah. Tak ada lagi suara ayah di rumah. Tak ada lagi senyum dan tawanya di depan TV. Tak ada ayah saat sahur. Tak ada ayah saat makan bersama sesudah magrib. Tak ada ayah saat berkumpul seusai tarwih. Tak ada ayah selamanya lagi.

Tak hanya di rumah, di masjid pun penuh dengan udara rindu. Sudut-sudut masjid mengingatkan kami tentang ayah. Tak ada lagi gerakan ayah menyapu lantai masjid. Tak ada lagi ayah membagikan kue berbuka puasa. Tak ada lagi teguran ayah saat berusaha mengingatkan jamaah untuk menyimpan sandalnya di lemari yang telah disediakan. Ayah sangat tidak suka jika ada jamaah yang melewati batas suci. Tak pernah lagi ada fisik ayah di masjid.

Ibu masih sering mengungkit-ungkit keinginan ayah untuk ibadah umroh. Terutama umroh Ramadhan. Ayah dan ibu memang sudah  pernah pergi haji umroh, tetapi itu sudah bertahun-tahun silam. Ada kerinduan yang dalam untuk kembali menginjak tanah suci. Mereka sangat ingin melihat langsung Masjid Haram yang sekarang. Dari tayangan TV, Masjid Haram sudah sangat berubah dari kondisi yang sebelumnya pernah mereka lihat.

Dulu, ayah juga sering-sering mengikuti informasi travel umroh, seperti Abu Tours. Ia kerap bertanya-tanya tentang biaya umroh dan seputar promosi umroh murah.  Ayah bukannya tidak punya uang, tetapi ayah dan ibu masih menabung untuk biaya pendidikan adik kami dan juga punya cita-cita membeli rumah di Makassar. Hal itulah yang membuatnya menunda untuk daftar umroh.

Namun, sekali lagi, Allah SWT berkehendak lain. Ayah tak sempat melihat keinginannya menjadi nyata.

Ramadhan yang datang sepekan setelah kepergian ayah membuat keceriaan keluarga kami berkurang. Binar di mata ibu tak lagi seterang dulu. Air matanya masih sering jatuh setiap kali bercerita mengenang ayah. Begitu pula kami anak-anaknya.

Namun, Ramadhan tetap kami nikmati sebagai kado terindah dari Allah SWT. Aku sendiri berpikir, Allah SWT sengaja mendekatkan ajal ayah dengan Ramadhan agar kami sekeluarga dapat lebih tabah dalam menerima ketetapan-Nya. Inilah berkah Ramadhan dalam bentuk yang lain. Ramadhan yang penuh nuansa ibadah ini sangat menguatkan kami. Kami jadi lebih sering mengingat kematian dan semakin menyadari kekuasaan Allah SWT.

Ramadhan tahun ini boleh jadi adalah Ramadhan tersedih bagi keluarga kami, tetapi kami yakin dan berharap bahwa Ramadhan ini adalah Ramadhan terbaik keluarga kami. Ibadah kami semakin kencang. Doa kami semakin kuat. Puasa kami lebih berberkah.

Atas seluruh takdir Allah SWT, kami yakin ada kebaikan di dalamnya. Seluruh takdir dari Allah SWT adalah baik.

#LebihDariSekedarNikmatnyaIbadah 
#SemuaBisaUmroh
Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Contest Ramadhan  Bersama Abutours & Travel 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar