Rabu, 12 Juli 2017

Cerita Sukses, Kado Lebaran untuk Orang Tersayang, dan Umroh Bersama Abu Tours

vector created by Freepik

Kesuksesan seorang anak adalah ketika ia mampu membahagiakan orang tuanya. Sul mulai meyakini itu. Di tempatnya merantau sekarang, ia merenung-renungi diri, sudahkah ia dianggap sukses?

Sul kerap mengunggah foto-foto ketika sedang bekerja di kantor atau melaksanakan proyek di lapangan lewat akun Instagramnya. Teman-teman sekolah dan kuliahnya sering memberi komentar bahwa Sul sudah sukses di kampung orang. Apalagi Sul tak jarang mengunggah fotonya ketika sedang mengendarai mobil atau ketika berdiri di depan suatu rumah pribadi berlantai dua.

Sul bekerja di Kalimantan, sementara ibunya berada di Enrekang. Sul semula senang-senang saja menanggapi respons teman-temannya di Instagram. Siapa tidak senang jika dikatakan sudah sukses? Itu adalah pujian yang paling dinanti seorang sarjana yang sedang merantau. Kendati pun Sul sadar bahwa teman-temannya hanya mengira mobil dan rumah tempat ia berfoto adalah miliknya. Padahal, bukan. Sul hanya iseng berfoto tanpa bermaksud apa-apa. Teman-temannya-lah yang mengambil kesimpulan sendiri.

Sampai akhirnya kata ‘sukses’ itu menghantui Sul. Apakah ia sudah sukses? Ia memang sudah memiliki pekerjaan tetap dan tidak lagi bergantung kepada orang tua. Ia sudah bisa hidup mandiri. Tapi, apakah ia sudah sukses? Jika pun nanti ia sudah bisa membeli mobil dan rumah, apakah ia sudah bisa dianggap sukses?

Bulan Ramadhan pun datang menghampiri Sul di tanah perantauan. Ini bukan Ramadhan pertama Sul tidak pulang. Sejak kuliah, ia terbiasa mengisi hari-hari puasa di kampus dan hanya pulang jika musim mudik datang alias saat lebaran sudah dekat.  Tetapi, Ramadhan kali ini terasa berbeda bagi Sul. Ini Ramadhan di usianya yang ke-28 tahun.

Saat mendengar keceriaan anak-anak di malam tarwih dekat rumah kontrakan, masa lalu tiba-tiba datang menyentuh Sul. Jendela kenangannya terbuka kembali. Masa-masa kanaknya terbayang lagi. Ada rasa rindu yang memeluknya di sudut masjid. Ia ingat kampung halaman. Ia ingat almarhum ayahnya yang meninggal saat Sul masih kecil. Ia ingat ibunya yang selama ini sekuat tenaga merawat dan membesarkan Sul.

Ketika kembali dari masjid, tak terasa mata Sul sudah sembap. Aliran air mata membekas di pipi. Tak menunggu waktu lama, ia menelepon ibunya. Saat itulah ia baru menyadari bahwa suara ibunya kian lemah. Kalimat ibu sudah terbata-bata. Sul seketika dirundung kesadaran bahwa sang ibu sudah kian renta.

Barangkali ini yang disebut berkah Ramadhan, yaitu ketika sebuah keinsyafan datang memasuki kalbu. Sul tercenung. Pertanyaan tentang kesuksesan menggetarkan lagi nuraninya. Apakah ia sudah sukses? Ternyata belum.  Ia sudah menemukan jawabannya sekarang. Ia belum membahagiakan orang tuanya. Ibu belum membahagiakan sang ibu dan barangkali juga ayah di alam kubur.

Sul tahu, gaji yang sering disisihkan buat ibunya setiap bulan sampai kapan pun tak pernah cukup untuk membalas jasa-jasa sang ibu. Air mata Sul menitik lagi. Ia ingat keinginan sang ibu untuk haji umroh. Jika tak sanggup haji, minimal ibadah umroh untuk mengunjungi kota suci; menziarahi makam Sang Rasul.

“Berapa biaya umroh, Nak?” tanya ibunya suatu ketika. Sul terkenang.

Sul sadar dan kini membulatkan tekad untuk mengajak ibu daftar umroh. Bila perlu, umroh Ramadhan. Sul ingat, ada temannya di Makassar yang menjadi agen Abu Tours, travel umroh yang sangat populer di Makassar. Abu Tours sering mengadakan promo untuk umroh murah.

Tak menunggu lama, Sul menghubungi temannya itu. Ia kini merasa lebih tenang. Malam itu, ia mulai bermimpi indah dan terbangun dengan bayangan senyuman di wajah ibu. 

#LebihDariSekedarNikmatnyaIbadah #SemuaBisaUmroh
Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Contest Ramadhan  Bersama Abutours & Travel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar