Sabtu, 01 Agustus 2015

Arsitektur untuk Bumi




Menciptakan arsitektur adalah memanfaatkan dan menjunjung martabat alam, kata Y.B. Mangunwijaya dalam bukunya yang sangat terkenal di dunia arsitektur Indonesia: “Wastu Citra”. Romo Mangun, demikian kerap disapa, menekankan agar para arsitek dapat mencari jawaban permasalahan arsitektur yang sesuai dengan ‘tempat’ dan ‘waktu’. Seorang arsitek tidak sepantasnya sekadar ‘tempel’ sana-sini hanya untuk memberi kesan indah pada hasil rancangan, tetapi tidak punya kebermaknaan di dalamnya. Seorang arsitek harus indah karena benar.
**
Bumi—atau katakan bentang alam dan bentang budaya—dipengaruhi banyak oleh arsitek. Mereka adalah ‘tangan-tangan tuhan’ yang mengisi bumi ini dengan ragam bangunan fisikal. Mereka yang membuat segala rupa wujud arsitektur guna menjadikan bumi ini laik dihuni oleh umat manusia.
Maka itu, isu-isu lingkungan hidup dan kerusakan bumi sudah barang tentu menjadi hal yang tidak lepas dari seorang arsitek. Mau tidak mau pula, menurunnya daya dukung bumi tahun-tahun belakangan dapat dikatakan adalah cermin dari kegagalan arsitek dewasa ini.

Dalam konteks bentang budaya, arsitek memengaruhi pola pikir dan pola hidup umat manusia. Arsitek zaman dulu membawa peradaban manusia dari hidup berpindah-pindah menuju hidup bertempat tinggal secara tetap, dan seterusnya. Arsitek mengisi kebudayaan melalui lingkungan fisikal dan visual sehingga manusia dapat hidup sebagaimana hakikatnya seorang manusia, pada waktu dan tempat tertentu. Mengenai arsitektur dan kebudayaan ini dapat dengan mudah kita temui melalui filosofi rumah-rumah tradisional atau vernikular di Nusantara.
 Dan perkembangan mutakhir, arsitek mulai menggeser peradaban manusia menjadi sangat bergantung kepada energi. Peradaban ‘jalan kaki’ kini terbawa ke peradaban yang bergantung kepada mesin kendaraan. Bangunan-bangunan begitu bergantung kepada pengatur suhu ruangan dan pengatur cahaya listrik, dan seterusnya. Ketergantungan semacam ini tentu memiliki dampak yang sangat luas bagi kebudayaan umat manusia. Termasuk di antaranya adalah menjadikan manusia serba instan, hidup dalam ketergesaan, dan mungkin saja akan kembali kepada kehidupan nomaden.
Lebih jauh dari itu, arsitek (sebagai wujud dari kegagalan arsitek) kini sesungguhnya kian mengasingkan manusia dari alam, manusia dari sesama manusia, dan manusia dari dirinya sendiri.
**
Romo Mangun dijuluki sebagai Bapak Arsitektur Modern Indonesia. Ia telah meletakkan pijakan-pijakan dasar arsitektur untuk kemudian memengaruhi perkembangan arsitektur yang meng-Indonesia di kemudian hari. Karyanya berupa renovasi permukiman miskin di tepi Kali Code Yogyakarta yang pernah meraih penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur membuatnya kian bersinar dan selalu dikenang sampai saat ini sebagai arsitek yang peduli dengan kemanusiaan.
Di tangan Romo Mangun, arsitektur tidak sekadar merancang fisik bangunan, tetapi juga memanusiakan bangunan. Memanusiakan arsitektur. Dalam pengertian yang lebih luas, arsitektur dipandang sebagai upaya untuk menghadirkan semangat kemanusiaan di lingkungan hidup umat manusia—menciptakan apa yang disebut Pramoedya Ananta Toer sebagai Bumi Manusia. Bukan sebaliknya, yaitu arsitektur yang kerap menjebak manusia untuk diperdaya oleh ruang.
**
Memasyarakatkan arsitektur adalah gagasan yang lain. Generasi baru arsitek Indonesia, dipelopori atau dipopulerkan oleh Yu Sing, berusaha untuk membumikan cita-cita tersebut. Yu Sing  dikenal melalui gerakannya mengenai desain rumah murah dan aktivitas filantropis “Papan untuk Semua”. Juga sebagai perintis Jaringan Arsitek Indonesia Merakyat yang fokus untuk memberi desain hunian atau ruang publik yang ramah bagi golongan ekonomi lemah.
Persoalan arsitektur lainnya memang adalah bahwa arsitek sudah terlalu berjarak dengan masyarakat kelas menengah ke bawah. Arsitek terkesan elitis dan hanya menjadi milik orang-orang kaya. Arsitek terlalu dikendalikan oleh kepentingan modal yang jika ditarik lebih jauh bermuara kepada isu globalisasi: keseragaman dan tidak berpihak kepada keberagaman.
Arsitek berperan penting untuk menangani persoalan-persoalan hak dasar masyarakat yang tidak terlayani, seperti rumah murah. Arsitek tentu saja bisa melakukan pengaturan sedemikian rupa sehingga terwujud rumah dengan tanpa menghilangkan nilai-nilai estetika arsitektural tapi terjangkau bagi lapisan masyarakat bawah. Dengan demikian, kehadiran seorang arsitek menjadi terasa kebermanfaatannya.
Yu Sing adalah harapan dari yang tidak terlalu banyak. Ia kini menjadi inspirasi bagi para arsitek muda dan calon arsitek di kampus-kampus. Kendati mendesain banyak rumah murah, ia tidak bisa tidak untuk tetap menerima proyek-proyek besar demi kepentingan ‘asas subsidi silang’ dan untuk tetap menghidupkan studio yang menampung idealismenya. Warga Makassar bisa menikmati salah satu desain Yu Sing yang menang sayembara: Menara Phinisi UNM—gedung tinggi pertama di Indonesia dengan fasade hiperbolic paraboloid—sarat nilai-nilai Bugis-Makassar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar