Sabtu, 01 Agustus 2015

BNI, Perpanjangan Tangan Ortu Bagi Mahasiswa Rantau




Sewaktu kuliah, kampus saya, Universitas Hasanuddin, memiliki kerja sama dengan BNI. Seluruh transaksi keuangan mahasiswa dengan pihak kampus berlangsung melalui jasa bank kebanggaan Indonesia tersebut. 

Semua mahasiswa Unhas di angkatan saya kemudian memiliki rekening BNI. Kartu Mahasiswa kami berfungsi ganda sebagai Kartu ATM BNI. Hal ini cukup menguntungkan sebab mahasiswa tidak perlu lagi repot-repot membawa banyak kartu di dalam dompetnya. Terkecuali jika memang ingin terlihat menebalkan dompet padahal keuangannya hanya tipis. Kendalanya hanya jika kita ingin menyewa sesuatu (misal buku, DVD, atau motor) dengan jaminan Kartu Mahasiswa. Itu sama berarti jika kita menjaminkan Kartu ATM yang kita punya. Sementara bisa saja kita membutuhkan Kartu ATM selama proses penyewaan sesuatu itu. Atau yang lebih buruk, kita menjadi khawatir kalau Kartu ATM itu dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Namun, sejauh ini, tidak ada kejadian atas kekhawatiran tersebut. 

BNI menjadi teman yang manis bagi para mahasiswa. Keseringan bertemu dengan BNI menjadi indikator makmur tidaknya teman-teman saya di kampus. Jika mereka terlihat datang ke ATM, berarti hari itu uangnya sedang banyak-banyaknya. Berkunjung ke BNI, ketika itu, dianggap sama dengan berkunjung ke rumah orang tua. Tepatnya, sama dengan bersalaman dengan orang tua setelah meminta uang kuliah. BNI telah menjadi perpanjangan tangan orang tua yang memberikan kita uang di tanah rantau. BNI menyimpan uang kita dengan sebaik-baiknya, dan mengeluarkannya jika kita membutuhkan. 

Sewaktu kuliah, saya dapat beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) selama dua tahun berturut-turut dari Dikti dan kampus, dan semuanya ditransfer melalui BNI. BNI sudah seperti bukan bank semata lagi, melainkan sudah jadi bagian dari keluarga dan kehidupan mahasiswa. Kampus juga sepertinya banyak terbantu oleh BNI. Halte-halte, tempat menunggu angkutan umum atau sekadar duduk-duduk bernaung, di sekeliling kampus adalah sumbangan dari BNI. Taman Rusa di kampus Unhas juga adalah  berkat bantuan BNI, dan banyak lagi bantuan BNI semisal menjadi sponsor dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. 

Ketika melanjutkan kuliah pascasarjana, segera setelah saya wisuda sarjana, BNI lagi-lagi menjadi teman saya di UGM, Yogyakarta. Seluruh transaksi keuangan di angkatan saya S2 juga menggunakan BNI, mulai dari pendaftaran, pembayaran SPP, sampai pada pencairan Beasiswa Unggulan DIKTI yang saya peroleh.
Kartu ATM yang juga kartu mahasiswa saya sewaktu di Unhas tentu saja sudah tidak berlaku. Tetapi, kartu ATM-nya masih saya simpan sampai sekarang. Sekurang-kurangnya sebagai kenang-kenangan. Di Yogyakarta, saya punya Kartu ATM BNI yang baru, dan yang sekaligus sebagai kartu mahasiswa Universitas Gadjah Mada. 

BNI memberi kita berbagai kemudahan dalam transaksi. Aplikasi phone-banking, misalnya, membuat aktivitas transaksi bisa berlangsung tanpa kita perlu meninggalkan tempat. Tentu sangat cocok dengan segala kesibukan mahasiswa pascasarjana. 

Yang lucu, sewaktu di Jogja, SMS dari BNI seringkali jauh lebih penting dari apapun, jauh lebih penting dari SMS orang tua dan dosen. Sebabnya, lantaran SMS dari BNI adalah kabar bahwa beasiswa kami sudah turun. SMS dari BNI selalu menjadi hal yang kami para penerima Beasiswa Unggulan Dikti rindukan. 

Selamat ulang tahun, BNI. Semoga tetap menjalin kerja sama dengan kampus-kampus di seluruh Indonesia. Dengan begitu, BNI akan terasa lebih dekat kepada masyarakat, dan turut serta membangun bangsa ini pada jalur pendidikan. Lebih dari itu, semoga tidak hanya menjadi perpanjangan tangan orang tua bagi mahasiswa rantau, tetapi juga orang tua bagi seluruh anak bangsa, masyarakat, dan bahkan lembaga-lembaga atau elemen yang menyusun negeri tercinta ini. Tetaplah menjadi kebanggaan, tetaplah menjadi yang terbaik.  

ATM BNI Taplus (pengganti ATM Kartu Mahasiswa UGM sewaktu tamat), dan ATM Kartu Mahasiswa Unhas
 
  




Arsitektur untuk Bumi




Menciptakan arsitektur adalah memanfaatkan dan menjunjung martabat alam, kata Y.B. Mangunwijaya dalam bukunya yang sangat terkenal di dunia arsitektur Indonesia: “Wastu Citra”. Romo Mangun, demikian kerap disapa, menekankan agar para arsitek dapat mencari jawaban permasalahan arsitektur yang sesuai dengan ‘tempat’ dan ‘waktu’. Seorang arsitek tidak sepantasnya sekadar ‘tempel’ sana-sini hanya untuk memberi kesan indah pada hasil rancangan, tetapi tidak punya kebermaknaan di dalamnya. Seorang arsitek harus indah karena benar.
**
Bumi—atau katakan bentang alam dan bentang budaya—dipengaruhi banyak oleh arsitek. Mereka adalah ‘tangan-tangan tuhan’ yang mengisi bumi ini dengan ragam bangunan fisikal. Mereka yang membuat segala rupa wujud arsitektur guna menjadikan bumi ini laik dihuni oleh umat manusia.
Maka itu, isu-isu lingkungan hidup dan kerusakan bumi sudah barang tentu menjadi hal yang tidak lepas dari seorang arsitek. Mau tidak mau pula, menurunnya daya dukung bumi tahun-tahun belakangan dapat dikatakan adalah cermin dari kegagalan arsitek dewasa ini.