Kamis, 28 Februari 2013

Belajar Adaptasi Kekeringan dari Gunungkidul



Oleh: Fitrawan Umar

Perubahan iklim secara global mengakibatkan terjadinya bencana kekeringan di sejumlah negara, tak terkecuali di sejumlah daerah di tanah air. Bencana kekeringan itu telah dan akan mengancam keberlangsungan hidup umat manusia, serta menimbulkan beragam persoalan baru di masyarakat.
Bencana kekeringan yang tak terhindarkan menuntut adanya langkah-langkah antisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang menimbulkan persoalan di masyarakat. Kearifan-kearifan lingkungan yang tumbuh di masyarakat dapat melakukan perannya untuk mewujudkan harapan tersebut. Di sejumlah daerah yang terkena dampak kekeringan, aturan adat sebagai kearifan lingkungan terlihat memainkan peran dalam melindungi sumber daya air.
Masyarakat di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta patut dijadikan contoh. Bentang lahan yang berupa karst membuat daerah ini mengalami kekeringan panjang di bagian permukaan. Mereka telah merasakan pahit-getirnya kekeringan sejak lama, bahkan secara turun-temurun. Masyarakat Gunungkidul telah mampu beradaptasi terhadap kelangkaan air di daerah tersebut. Keadaan telah menumbuhkan pengetahuan masyarakat dalam memperlakukan lingkungannya.

Masyarakat Gunungkidul masih mempertahankan kearifan lingkungan yang telah diwariskan oleh pendahulu-pendahulu mereka. Kearifan lingkungan tersebut di antaranya adalah kesadaran bersama masyarakat untuk melindungi sinkhole (lubang-lubang vertikal) gua karst. Sinkhole merupakan lubang masuknya air permukaan saat hujan turun. Air tersebut akan mengalir melalui sungai bawah tanah di dalam gua, kemudian keluar melalui mata air atau mulut gua.
Masyarakat Gunungkidul paham bahwa kualitas air di mata air atau mulut gua dipengaruhi oleh keberadaan sinkhole. Olehnya, masyarakat melindungi sinkhole dengan menyusun batuan di tepi lubang agar material yang terbawa air hujan tidak turut masuk ke dalam sistem air di gua. Material atau sedimentasi yang terlarut dapat mengurangi kejernihan air yang akan dimanfaatkan masyarakat untuk kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Gunungkidul juga masih memegang kepercayaan atau mitos-mitos adat bahwa merusak sumber daya air akan mendatangkan malapetaka seperti gagal panen dan lain sebagainya.
Selain tentang ancaman pemenuhan ketersediaan air, kelangkaan air diprediksi dapat memunculkan konflik di masyarakat, perebutan sumber daya akan terjadi, dan ketidakadilan akan muncul oleh monopoli penguasaan sumber daya tersebut. Manusia tidak bisa hidup tanpa sumber daya air. Olehnya, segala daya-upaya dalam memperoleh air akan dilakukan umat manusia untuk mempertahankan hidupnya.
Di sini, peran institusi lokal sangat diperlukan. Kembali ke Gunungkidul, di antara beberapa desa di daerah tersebut, Desa Girisuko menarik untuk diperhatikan. Desa ini mampu melakukan terobosan-terobosan untuk menyelesaikan persoalan kekeringan di daerahnya. Di sini, peran institusi lokal sangat terasa. Sekiranya bentuk adaptasi masyarakat desa ini dapat menjadi contoh untuk menghadapi bencana kekeringan di daerah lain, bila memang terjadi perubahan iklim secara esktrim di masa mendatang.
Masyarakat Desa Girisuko, sebelum dibangun instalasi penyaluran air, memenuhi kebutuhan airnya dengan mendatangi mata air di atas pebukitan. Mereka mendaki dan mengantri demi memperoleh air di mata air tersebut, lalu kemudian digunakan untuk keperluan sehari-hari. Mereka mengambil air dengan menampungnya di galon, ember, serta wadah lain yang memungkinkan untuk dibawa dan disimpan di rumah. Kebiasaan seperti ini cukup menyulitkan, serta menghabiskan banyak waktu dan tenaga masyarakat.
Olehnya itu, dibantu oleh LSM setempat, mereka membangun instalasi penyaluran air dan membentuk organisasi pengelolaan air. Instalasi penyaluran air ini dibangun di atas bukit, dengan memompa air dari mata air kemudian ditampung di bak penampungan, dan seterusnya dialirkan melalui pipa ke rumah-rumah penduduk.
Masyarakat dipungut iuran operasional sebesar Rp 2.000,- per bulan. Iuran ini tentu saja lebih ringan bagi masyarakat, dibanding apabila mereka harus mendaki dan mengantri lagi. Organisasi pengelolaan air bertugas untuk menagih iuran tersebut, dan bertanggung jawab terhadap pengoperasionalan instalasi penyaluran air.
Sejumlah peraturan juga telah mereka sepakati, seperti jadwal giliran aliran air di tiap rukun tetangga (RT), pembatasan kuota penggunaan air di musim kemarau, dan beberapa larangan (misalnya larangan mengambil air langsung dari mata air, larangan mencuci kendaraan, dan larangan memandikan ternak di musim kemarau).
Kekeringan yang mengancam sejumlah daerah perlu segera disikapi secara serius. Pembentukan organisasi pengelolaan air seperti di atas terbukti dapat menghindari terjadinya konflik dan perebutan sumber daya air. Sekali lagi, bentuk adaptasi tersebut adalah contoh yang baik untuk diterapkan.
Kita bisa membayangkan bagaimana situasi masyarat dalam menyikapi kelangkaan air akibat terjadinya perubahan iklim ekstrim di masa mendatang. Titik-titik kekeringan akan muncul di mana-mana. Air menjadi barang yang langka. Sumber-sumber air bisa menjadi rebutan, konflik akan tumbuh berkembang, dan ketidakadilan akan meluas. Di saat seperti itu, bukan tidak mungkin masyarakat yang memiliki jaringan kekuasaan dan modal ekonomi yang kuat dapat menguasai sumber air.  Sedang masyarakat lemah akan terus menerus menjadi korban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar