Kamis, 28 Februari 2013

Belajar Adaptasi Kekeringan dari Gunungkidul



Oleh: Fitrawan Umar

Perubahan iklim secara global mengakibatkan terjadinya bencana kekeringan di sejumlah negara, tak terkecuali di sejumlah daerah di tanah air. Bencana kekeringan itu telah dan akan mengancam keberlangsungan hidup umat manusia, serta menimbulkan beragam persoalan baru di masyarakat.
Bencana kekeringan yang tak terhindarkan menuntut adanya langkah-langkah antisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang menimbulkan persoalan di masyarakat. Kearifan-kearifan lingkungan yang tumbuh di masyarakat dapat melakukan perannya untuk mewujudkan harapan tersebut. Di sejumlah daerah yang terkena dampak kekeringan, aturan adat sebagai kearifan lingkungan terlihat memainkan peran dalam melindungi sumber daya air.
Masyarakat di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta patut dijadikan contoh. Bentang lahan yang berupa karst membuat daerah ini mengalami kekeringan panjang di bagian permukaan. Mereka telah merasakan pahit-getirnya kekeringan sejak lama, bahkan secara turun-temurun. Masyarakat Gunungkidul telah mampu beradaptasi terhadap kelangkaan air di daerah tersebut. Keadaan telah menumbuhkan pengetahuan masyarakat dalam memperlakukan lingkungannya.

Minggu, 10 Februari 2013

Puisi Air Mata


Seorang lelaki menjelma burung belibis
mengais-ngais dengan tangis
di sela penyempitan Danau Tempe ceruk matamu

Pulanglah segera setelah melihat pelangi
ada luapan menggenang banyak menghampiri tiang balok rumah panggungmu
berhentilah menangis

Waktu terbaik menjemur perih adalah teriknya ingatan
memang selalu ada yang mencuci kenangan di minggu pagi
merendam rindu terpendam

Ikan bungo, biawang, bete-bete sedang mencari jejakmu
satu per satu pergi bersamamu
sedang seorang lelaki sendiri meniti perahu kecil
mencari muara; usai kenangan kering di tubuhnya

Februari 2013

Green City dan Perubahan Iklim

Fitrawan Umar
Harian Cakrawala Selasa, 06 November 2012 14:06

Krisis lingkungan hidup telah menjadi ancaman serius bagi seluruh penghuni bumi. Perubahan iklim yang sulit terhindari membentuk sebuah keresahan global, di mana suatu saat nanti bumi dan alam raya tidak akan berpihak kepada manusia. Bencana atau marabahaya akan datang menimpa bila manusia mengabaikan keberadaan lingkungan hidup sebagai elemen yang mesti diperhatikan dalam konteks pembangunan.

Mengenai isu perubahan iklim, kita semua sudah banyak mendengar, dan bahkan merasakan sendiri gejala dampak dari isu yang menjadi ancaman seluruh dunia tersebut. Pada tataran internasional, perubahan iklim telah menjadi pembicaraan serius oleh para petinggi negara.

Salah satu penyebab dari perubahan iklim ialah terjadinya pemanasan di wilayah perkotaan atau dikenal dengan Urban Heat Island (Pulau Panas Perkotaan). Barangkali semua masyarakat kota di Indonesia telah merasakan perubahan kota yang menjadi ‘pusat pendidihan’ massal.

Kota terasa begitu panas, menggerahkan, terlebih di wilayah-wilayah padat bangunan.
Suhu udara yang tinggi dapat membuat stressor perkotaan semakin tinggi. Beban pikiran masyarakat kota semakin meningkat, dan bisa saja mengurangi produktivitas dan kreativitas masyarakat kota. Penggunaan energi berlebih juga menjadi pilihan yang sulit dielakkan. Dalam keadaan demikian, pemakaian mesin pendingin seperti AC adalah kebutuhan yang sulit dihindari. Aktivitas jalan kaki dan pesepeda juga terganggu oleh tingginya suhu udara perkotaan. Akhirnya kemudian akan terjadi lingkaran setan penggunaan energi penyebab perubahan iklim global.