Minggu, 02 Desember 2012

Sinichi, Ran, Kamu, dan Dia



“Technically, I’m single, but my heart is taken by someone I can’t call my own.” (Wiz Khalifa)

“Kenapa wajah kamu memerah?” Tanya Ran, suatu sore saat mereka berjalan berdua, sepulang sekolah, dulu.
“Tidak. Ini hanya cahaya senja.” Sanggah Sinichi yang kemudian berlari menjauh.
Ran, ketika itu, bersama bekas-bekas pertanyaannya hanya mampu menatapi punggung Sinichi yang lenyap perlahan. Di ufuk seberang sana, matahari segera terbenam dengan sisa-sisa sinarnya yang memerahkan senja, akan tetapi berhasil membirukan suatu pertemuan.

Hal-hal kecil memang kadang membuat kita merindukan seseorang. Barangkali segala kisah tidak pernah hilang di suatu tempat, melainkan telah menjadi kenangan. Segala tentang Sinichi masih tersimpan baik dalam ingatan Ran. Semuanya. Meski kini, ia tidak pernah tahu di mana keberadaan Sang Detektif itu. Sinichi hanya hadir lewat suara-suaranya di ujung telepon, di ujung-ujung percakapan yang kemudian selalu diakhiri dengan permohonan maaf karena sedang menyelidiki kasus penting.

Kasus penting? Kasus dan kasus! Selalu Ran menggerutu perihal itu. Mereka memang
telah lama bersama, sedari kecil, tetapi Ran masih sulit menerima jalan pikiran Sinichi. Laki-laki itu sibuk dengan dirinya sendiri. Sibuk dengan kasus-kasus yang tiada ujungnya. Dan, tiada pernah sedikit pun memahami perasaan Ran.
Adakah Sinichi punya perasaan sama dengan Ran? Ran tidak tahu. Tetapi, Ran masih terus berharap, bersama segala perasaan yang disimpannya.

Semenjak peristiwa di taman bermain di suatu hari, Sinichi memang tidak pernah lagi kembali. Entah akan atau tidak. Ia telah diberi pil oleh Organisasi Hitam hingga tubuhnya mengecil.

Sinichi kemudian menjadi Conan yang sekarang ini bersama dengan Ran.

Di setiap kejadian genting, Ran setia menanti Sinichi untuk menyelamatkannya. Ia masih saja percaya dengan kekuatan harapan. Meski kemudian, yang hadir adalah Conan yang juga setia untuk terus melindungi Ran.

Ran masih setia. Padahal, Sinichi adalah laki-laki yang sulit dimengerti. Padahal, Sinichi adalah laki-laki yang paling sering membuat Ran marah, kecewa, jengkel, dan semacamnya. Padahal, mungkin saja Sinichi tidak pernah lagi kembali.

Ah, padahal Sinichi adalah Conan yang selalu Ran peluk.

“It’s just my Imagination,
I drink  my tea which has gotten cold
As I idly wrap this thread around my fingers.” (Step by Step, OST.Detective Conan)

5 komentar: