Jumat, 21 Desember 2012

Surah Kenangan*



(1) Kenangan
(2) Apakah kenangan itu?
(3) Dan tahukah kamu apakah kenangan itu?
(4) Pada hari di mana semua luka-tawamu seperti laron yang beterbangan
(5) dan senyum-perihmu seperti bulu yang dihambur-hamburkan
(6) Maka adapun orang yang masa lalunya bersabar-perih
(7) maka ia berpulang pada bahagia-seri
(8) Dan adapun orang yang masa lalunya berfoya-tawa
(9) maka tempat kembalinya adalah sunyi
(10) Dan tahukah kamu apakah sunyi itu?
(11) yaitu api kenangan yang penuh pedih

Yogyakarta, 13 Oktober 2012
*Adopsi dari Surah Al-Qariah

Minggu, 02 Desember 2012

Sinichi, Ran, Kamu, dan Dia



“Technically, I’m single, but my heart is taken by someone I can’t call my own.” (Wiz Khalifa)

“Kenapa wajah kamu memerah?” Tanya Ran, suatu sore saat mereka berjalan berdua, sepulang sekolah, dulu.
“Tidak. Ini hanya cahaya senja.” Sanggah Sinichi yang kemudian berlari menjauh.
Ran, ketika itu, bersama bekas-bekas pertanyaannya hanya mampu menatapi punggung Sinichi yang lenyap perlahan. Di ufuk seberang sana, matahari segera terbenam dengan sisa-sisa sinarnya yang memerahkan senja, akan tetapi berhasil membirukan suatu pertemuan.

Hal-hal kecil memang kadang membuat kita merindukan seseorang. Barangkali segala kisah tidak pernah hilang di suatu tempat, melainkan telah menjadi kenangan. Segala tentang Sinichi masih tersimpan baik dalam ingatan Ran. Semuanya. Meski kini, ia tidak pernah tahu di mana keberadaan Sang Detektif itu. Sinichi hanya hadir lewat suara-suaranya di ujung telepon, di ujung-ujung percakapan yang kemudian selalu diakhiri dengan permohonan maaf karena sedang menyelidiki kasus penting.

Kasus penting? Kasus dan kasus! Selalu Ran menggerutu perihal itu. Mereka memang