Minggu, 02 September 2012

Kepada Mahasiswa Baru


 
Bahwa satu-satunya cahaya yang tak boleh padam di tengah kegelapan adalah harapan, maka lilin-lilin harapan harus terus dinyalakan di sepenjuru Bumi Pertiwi. Manakala harapan telah hilang, lenyap pula segala cita yang pernah hidup di masa lampau. Apabila sesal dan kecewa selalu dipelihara, maka sungguh sesal dan kecewa itu tidak pernah bergerak ke arah maju, melainkan terus mencari jalan untuk mundur ke belakang.
Bangsa Indonesia dengan seluruh kekayaan alamnya, barangkali memang diberi musibah untuk terus-menerus dijajah sampai detik ini. Dari zaman feodalisme kerajaan, zaman penjajahan Belanda-Jepang, hingga zaman di mana kita telah sampai pada apa yang pernah dikatakan Soekarno, “kita akan dijajah oleh bangsa kita sendiri.”
Kita harus telah sadar, kita telah sampai pada zaman penjajahan yang dilakukan oleh anak bangsa sendiri. Jaringan mafia korupsi, kolusi, dan nepotisme masih terus menggurita dengan piranti sosial yang sungguh amat canggih. Politisi dan pejabat korup, tidak sedikit telah menjadi perpanjangan tangan pihak-pihak asing untuk mengeruk perut bumi Indonesia sebanyak-banyaknya, merampok uang rakyat, dan menghalalkan segala cara demi tahta dan kekuasaan. Para legislator telah banyak ‘dibeli’ guna memuluskan agenda-agenda negara orang lain. Konglomerat-pengusaha “hitam” pun demikian, telah bersekutu untuk meraup kekayaan sebesar-besarnya tanpa pernah peduli dengan nasib rakyat kebanyakan.

Meminjam istilah Buya Syafii Maarif, kita punya presiden, tapi tidak memiliki pemimpin. Kita punya gubernur, tapi tidak punya pemimpin. Kita punya walikota, tapi juga tidak punya pemimpin. Mereka yang telah duduk sekarang ini di tiga pilar negara, eksekutif-legislatif-yudikatif, banyak yang tidak dapat dipercaya, apalagi diteladani. Mereka semua itulah para penjajah yang telah menindas sesama bangsanya sendiri. Beruntunglah sebagian kita yang tidak bernasib sama dengan Tan Malaka: tertembak oleh peluru negara yang telah ia gagasnya sendiri.
Begitu gelapnya-suramnya-pekatnya negara ini. Namun, sekali lagi, harapan mesti terus bertumbuh, berkecambah, berkembang, menyebar, menjalar, hidup sehidup-hidupnya di negeri kita. Anis Matta dalam bukunya “Mencari Pahlawan Indonesia” pernah berkata, bukan soal krisis negara itu bisa menuju kehancuran, melainkan adalah bila rahim-rahim negara itu tidak lagi mampu melahirkan para pahlawan. Krisis di suatu negara adalah lumrah, namun bila tidak diisi oleh kehadiran pahlawan, maka teramat sulit negara itu bisa bangkit dari keterpurukan. Para pahlawan itulah yang kita maksud dengan para pewaris harapan.
Kepada mahasiswa baru, kalianlah para pewaris harapan di negeri ini. Indonesia yang gelap gulita oleh generasi pejabat korup mesti terus dinyalakan dengan semangat para pewaris harapan. Mahasiswa baru adalah putra-putri terbaik bangsa yang sudah saatnya mengambil peran besar untuk perubahan di negeri ini. Mari berhenti sejenak mengenang eforia kelulusan, tugas berat selanjutnya telah menanti di pundak.
Mahasiswa baru sudah waktunya meninggalkan seluruh warisan sikap ala anak SMA menuju arus besar gelombang perubahan yang telah menjadi tradisi masyarakat kampus. Ini kampus! Ini kampus!
Untuk itu, mari kita pahami apa kata Ali Syariati, pemikir Iran, tentang mahasiswa. Mahasiswa adalah kaum menengah terpelajar, yang memiliki kemampuan berdiplomasi dengan kaum elit, namun juga sekaligus memiliki kemampuan berkomunikasi dan merasakan penderitaan rakyat. Memilih menjadi mahasiswa, berarti telah memilih untuk bisa menjadi jembatan penghubung perubahan.
Mahasiswa tak sekedar status, kata Rabiah, seorang penulis. Mahasiswa adalah seluruh cita-cita, seluruh semangat, seluruh idealisme, dan seluruh harapan untuk menjadi generasi pewaris bangsa ini di masa mendatang.
Ada beberapa catatan menurut saya yang perlu dilakukan seorang mahasiswa baru sebagai prasyarat untuk menjadi lilin-lilin harapan, lilin-lilin perubahan. Pertama, menyadari perannya sebagai kaum terdidik. Mahasiswa adalah status jenjang pendidikan tertinggi di Indonesia. Mahasiswa adalah refleksi umat terdidik bagi masyarakat awam. Pikiran mahasiswa adalah pedoman, perbuatan mahasiswa adalah teladan, begitu seharusnya. Mari kita sudahi segala bentuk perbuatan tidak terdidik yang pernah dilakukan para pendahulu. Sudahi tawuran sesama elemen mahasiswa. Sudahi segala bentuk aktivitas yang menjauhkan rakyat dengan mahasiswa.
Kedua, menyadari perannya sebagai gerakan perubahan. Ketika kezaliman pejabat-pejabat telah nyata-nyata nampak di permukaan, maka mahasiswa adalah mesin sekaligus motor untuk meruntuhkan kezaliman itu. Mahasiswa ialah penyambung lidah rakyat. Mereka-lah yang mesti paling bisa merasakan getirnya kehidupan masyarakat. Suara mahasiswa adalah kumpulan suara buruh, suara petani, suara nelayan, suara guru, suara anak-anak jalanan, dan suara seluruh peluh rakyat.
Ketiga, menyadari perannya sebagai generasi baru. Semoga kita tidak begitu menyesali lahirnya generasi korup di masa lalu. Sudahi kecewa itu. Generasi sekarang adalah harapan. Mahasiswa ialah cadangan keras (iron stock) pemimpin di masa datang. Kampus merupakan tempat belajar paling baik dan indah untuk menjadi pemimpin tangguh di masa datang. Taman-taman belajar begitu banyak terbuka di lingkungan kampus. Dari ruang kelas, lembaga kemahasiswaan, komunitas-komunitas diskusi, dan lain sebagainya.
Mahasiswa adalah ukuran standar ‘manusia terbaik’ di mata masyarakat. 
Sekali lagi, mahasiswa baru adalah harapan baru. Salam perubahan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar