Minggu, 16 September 2012

Yang Kita Rindu di Musim Kering


[satu] Kenangan pada Jendela

Banyak nama yang kita tulis pada jendela
usai hujan turun
titik-titik air yang terhapus
berganti nama-nama yang muncul dalam ingatan
yang terpendam dalam kenangan

Selepas itu, titik-titik air berpindah ke mata

Minggu, 09 September 2012

Kemiripan


Konon, setiap orang di dunia ini memiliki kemiripan dengan tujuh orang yang berbeda. Mirip. Bukan sama.
Kita semua tahu, setiap orang punya keunikan masing-masing. Berbeda satu sama lain. Manusia kembar sekalipun pasti ada satu dua hal yang membuatnya berbeda.
Tapi, ada banyak orang yang kita temui di dunia ini–yang ketika kita melihatnya, kita akan teringat dengan orang lain yang pernah kita kenal sebelumnya.
Barang kali kejadian seperti ini kita jumpai ketika menemui orang-orang baru dalam hidup kita. Terkadang begini: ada kenalan baru yang kita jumpai, kemudian kita merasa bahwa kenalan baru ini mirip dengan seseorang. Entah teman biasa. Atau teman istimewa di masa lalu. Mulai dari wajah, tutur kata, tingkah laku, atau lain-lainnya.
Kalau sudah begitu, ada orang yang bahagia–karena merasa punya teman baru, yang seolah-olah adalah teman lamanya. Namun, ada juga yang kurang bahagia–sebab kenangannya akan tumbuh kembali, menguasai hatinya, membuka kembali jahitan lukanya.


Minggu, 02 September 2012

Kepada Mahasiswa Baru


 
Bahwa satu-satunya cahaya yang tak boleh padam di tengah kegelapan adalah harapan, maka lilin-lilin harapan harus terus dinyalakan di sepenjuru Bumi Pertiwi. Manakala harapan telah hilang, lenyap pula segala cita yang pernah hidup di masa lampau. Apabila sesal dan kecewa selalu dipelihara, maka sungguh sesal dan kecewa itu tidak pernah bergerak ke arah maju, melainkan terus mencari jalan untuk mundur ke belakang.
Bangsa Indonesia dengan seluruh kekayaan alamnya, barangkali memang diberi musibah untuk terus-menerus dijajah sampai detik ini. Dari zaman feodalisme kerajaan, zaman penjajahan Belanda-Jepang, hingga zaman di mana kita telah sampai pada apa yang pernah dikatakan Soekarno, “kita akan dijajah oleh bangsa kita sendiri.”
Kita harus telah sadar, kita telah sampai pada zaman penjajahan yang dilakukan oleh anak bangsa sendiri. Jaringan mafia korupsi, kolusi, dan nepotisme masih terus menggurita dengan piranti sosial yang sungguh amat canggih. Politisi dan pejabat korup, tidak sedikit telah menjadi perpanjangan tangan pihak-pihak asing untuk mengeruk perut bumi Indonesia sebanyak-banyaknya, merampok uang rakyat, dan menghalalkan segala cara demi tahta dan kekuasaan. Para legislator telah banyak ‘dibeli’ guna memuluskan agenda-agenda negara orang lain. Konglomerat-pengusaha “hitam” pun demikian, telah bersekutu untuk meraup kekayaan sebesar-besarnya tanpa pernah peduli dengan nasib rakyat kebanyakan.