Minggu, 12 Agustus 2012

Kepada Sepi (Lelaki yang Mencintai Rembulan)


Oleh: Wawan U.

SAMPAI saat saya menulis cerita ini, tak satu pun petunjuk pasti yang bisa dijadikan kunci untuk membuka pintu rahasia di balik namamu. Sepenjuru sekolah sudah saya selidiki, seluruh kelas sudah saya datangi, tiada yang tahu tentang kiasan dan simbol-simbol yang kau tuliskan. Siapa kau?
Sungguh, saya tidak mengerti apa yang kau inginkan dari semua ini. Saya bingung. Kau tahu kan, derajat penasaranku sudah melebihi titik didih paling tinggi? Uh, panas sekali pikiranku jadinya. Separuhnya bahkan sudah menguap menjadi amarah. Meletup-letup.
Ya, amarah! Tentu saja saya marah. Satu, saya penasaran atas ungkapan perasaanmu. Dua, puisi-puisimu, yang kau tujukan kepada namaku, yang tersebar di mading-mading sekolah, kini jadi pembicaraan seluruh siswa. Tiga, tak sedikit guru-guru yang selalu menyinggung perihal puisi-puisimu itu di kelas. Sebabnya, saya mesti memasang muka merah. Argh!
*

Sebenarnya tak ada masalah dengan puisi-puisimu selama ini. Saya menyukainya. Semua siswa juga suka. Tak jarang, tiap beberapa hari, beberapa siswa, termasuk saya di antaranya, sengaja berdiri di depan mading, mencari-cari puisi terbarumu. Sungguh pandai kau menyulam kata. Apa yang kau tulis, bisa mewakili banyak hati, bisa mewakili banyak kisah yang tercerai-berai di sekolah. Semua orang penasaran siapa sesungguhnya pemilik nama “Sepi” yang selalu kau gunakan untuk namamu di puisi-puisi itu.
Tapi, tapi, tapi, sejak kau menulis “Kepada Qurrata A’yun” dalam puisimu tiga hari berturut-turut ini, semua mata serasa mengepungku. Kenapa namaku? Siapa kau, Sepi?
*
“Yang saya curigai adalah Zain.”
“Haha, itu curiga atau harapan?” Ledek Marwah. Tawanya lepas. Ia tahu kalau saya diam-diam mengidolakan mantan ketua Kelompok Ilmiah Remaja itu, sejak kelas satu.
“Iya juga ya? Haha. Argh… Siapa kalau begitu?”
Tapi, saya serius. Saya mulai mencurigai Zain. Tapi, apa mungkin? Entahlah. Bisa jadi bukan. Tapi, bisa jadi, bukan?
Ada satu bait dari tulisan Sepi yang membuat saya curiga terhadap Zain. Begini: “Dari lelaki yang mencintai rembulan, kita adalah kumpulan awan berbentuk cincin di sekitaran.”
Ya, lelaki yang mencintai rembulan! Saya ingat akun email Zain menggunakan nama “kekasihrembulan”. Juga alamat blognya yang memakai “rembulanberkisah”. Ia juga pernah menulis esai pribadinya berjudul “Aku dan Bulan”. Apakah itu simbol-simbol dari Zain? Tapi, tapi, tapi, kenapa?
*
Sepulang sekolah hari itu, Zain menjawab bukan dirinya yang menulis puisi-puisi itu. Aduh, aduh, aduh, saya menyesal menanyakannya. Kenapa saya begitu bodoh? Zain, lelaki yang banyak dikagumi, mana mungkin membuat puisi untuk saya? Saya siapa? Aduh!
Hei, Sepi! Kau siapa? Puisi-puisimu membuat saya jatuh cinta dan benci secara bersamaan. Kau harus tahu, perempuan terlalu peka dengan syair-syair seorang lelaki.
“Kepada Qurrata A’yun. Hanya satu rembulan mengitari bumi tempat kita berpijak. Masing-masingnya menjaga jarak. Maka, biarkan aku mencintaimu dalam sajak. Aku benar-benar dekat. Dari Sepi.”


1 komentar: