Senin, 20 Agustus 2012

Sedikit Catatan untuk Pengkaderan Mahasiswa

: Fitrawan Umar. Kordinator Pengkaderan HMA FT-UH 2010/2011 dan Kordinator Kajian Strategis SMFT-UH 2011


Memasuki tahun ajaran baru, diskursus mengenai pengkaderan mahasiswa selalu hangat dibicarakan di hampir seluruh kampus. Pengkaderan mahasiswa adalah suatu keniscayaan, sebab ia merupakan nafas dari keberlanjutan organisasi. Pengkaderan merupakan momentum regenerasi. Bagi lembaga kemahasiswaan, pengkaderan sifatnya kontinuitas. Sebab, lembaga kemahasiswaan adalah organisasi kader. Segala bentuk kegiatan adalah gerak-gerak pengkaderan. Dimana kader diharapkan mampu mengembangkan dan mengisi pos-pos di lembaga kemahasiswaan. Demi eksistensi organisasi.
Hanya saja, pengkaderan tidak boleh berhenti sebatas untuk kepentingan regenerasi. Bukan sebatas kepentingan organisasi an sich. Para konseptor pengkaderan di tingkatan lembaga kemahasiswaan kadang terjebak dalam hal ini. Sehingga ada kesan selama ini, kader baru hanya dijadikan sapi perah untuk memuluskan kegiatan-kegiatan organisasi. Maka muncullah istilah perpeloncoan atau sejenisnya.
Pengkaderan mahasiswa seharusnya diluaskan lagi maknanya sebagai pendidikan atau proses pembentukan karakter. Karakter di sini ialah karakter yang sesuai dengan harapan bangsa di masa datang. Pembentukan karakter dalam wilayah kerja lembaga kemahasiswaan menjadi penting, sebab kita percaya karakter ideal tidak akan mungkin terwujud hanya dari kurikulum formal kampus. Pembentukan karakter mahasiswa menjadi sebuah solusi akan memudarnya karakter bangsa secara nasional. Rakyat sudah mengalami frustasi yang teramat akut terhadap moralitas pejabat publik. Kita sudah muak dengan tokoh-tokoh publik hari ini. Korupsi, pengrusakan lingkungan, pengabaian hak-hak kesehatan dan pendidikan, liberalisasi sektor-sektor publik, dan sebagainya adalah bentuk pengkhianatan karakter bangsa.

Minggu, 12 Agustus 2012

Kepada Sepi (Lelaki yang Mencintai Rembulan)


Oleh: Wawan U.

SAMPAI saat saya menulis cerita ini, tak satu pun petunjuk pasti yang bisa dijadikan kunci untuk membuka pintu rahasia di balik namamu. Sepenjuru sekolah sudah saya selidiki, seluruh kelas sudah saya datangi, tiada yang tahu tentang kiasan dan simbol-simbol yang kau tuliskan. Siapa kau?
Sungguh, saya tidak mengerti apa yang kau inginkan dari semua ini. Saya bingung. Kau tahu kan, derajat penasaranku sudah melebihi titik didih paling tinggi? Uh, panas sekali pikiranku jadinya. Separuhnya bahkan sudah menguap menjadi amarah. Meletup-letup.
Ya, amarah! Tentu saja saya marah. Satu, saya penasaran atas ungkapan perasaanmu. Dua, puisi-puisimu, yang kau tujukan kepada namaku, yang tersebar di mading-mading sekolah, kini jadi pembicaraan seluruh siswa. Tiga, tak sedikit guru-guru yang selalu menyinggung perihal puisi-puisimu itu di kelas. Sebabnya, saya mesti memasang muka merah. Argh!
*

Jumat, 10 Agustus 2012

Warisan Ayah


[kepada seorang kawan]

Surga memang bukan di telapak kakimu, Ayah
tapi ketabahan, ketegaran, dan tanggung jawab
adalah milikmu yang menjelma taman-taman,
dialiri sungai-sungai susu di bawahnya
berjenis-jenis buah di dalamnya

Kepergianmu kali ini
mewariskan anak-anak api dari neraka
aku yang yatim, ibu yang menjanda lahir batin

Kami sudah terlahap sepi, Ayah
surga di telapak kaki ibu berubah hampa tanpamu
adakah engkau sekarang berumah di Surga?

Aku dan ibu ingin bergegas ke sana
Bersurga bersama-sama

15 juli 2012