Rabu, 18 Juli 2012

Tokoh


Pilkada DKI, terlepas dari hasil apapun, setidaknya memberi pelajaran tentang adanya kegagalan dalam reproduksi tokoh di semua lembaga partai. Partai Demokrat dan koalisinya tetap saja mengusung Fauzi Wibowo meski lima tahun ini terus menerus mendapat kritik atas kegagalannya membangun Jakarta yang lebih baik. Tidak ada tokoh lain yang bisa dicalonkan Partai Demokrat selain Fauzi Wibowo, yang sudah terlanjur populer di masyarakat.
PDIP dan Gerindra terpaksa harus “mengimpor” tokoh di luar Jakarta untuk memenangkan Pilgub 2012 ini. Jokowi dari Solo, dan Ahok dari Belitung. Keduanya pun sama sekali tidak mempunyai KTP dan hak pilih di Jakarta. Jokowi diperintahkan ke Jakarta oleh Megawati atas prestasinya selama ini yang sangat populer. Modal kepopulerannya itu diyakini bisa meraih suara terbanyak pada saat Pilgub.

Begitu pula dengan Golkar, “mengimpor” Alex dari Sumatera Selatan untuk ikut bertarung di Pilkada DKI. Nyaris tidak ada tokoh Golkar Jakarta yang dianggap mampu memimpin dan memenangi pemilihan gubernur ini.
PKS lebih-lebih, harus “menurun-gunungkan” Hidayat Nur Wahid, mantan presiden partai, karena hampir tidak punya lagi stok tokoh yang memungkinkan merebut simpati masyarakat di Jakarta. PKS selalu bangga dengan ketidakbergantungannya terhadap figur tokoh untuk mengembangkan partai. Namun, realitanya, “ketokohan” itu sangat diperlukan untuk memenangkan setiap pertarungan politik.
*
Sepenting apakah “tokoh” itu? Ingat, para sahabat nabi mampu bersatu, tergerak hatinya, dan lain-lain, karena kuatnya “ketokohan” Rasulullah pada saat itu. Bila sang tokoh berkehendak A, maka A-lah jadinya. Penyebaran agama Islam di Indonesia cukup berhasil, disebabkan, salah satunya, karena para penyebar Islam sukses meyakinkan “tokoh” di masyarakat untuk memeluk agama Islam. Bila raja-raja memeluk Islam, maka hampir seluruh rakyat juga mengikutinya.
Bagaimana menjadi “tokoh” di masyarakat (kelompok, organisasi, komunitas, dll)? Sekali lagi gampang-gampang susah. Namun, yang pasti, orang tersebut harus lahir dari ‘bawah’. Sekarang bukan lagi zaman “To Manurung”, yang turun dari langit kemudian diangkat sebagai pemimpin.
Di kalangan masyarakat, orang menjadi tokoh disebabkan beberapa hal. Di antaranya keturunan, jabatan, harta, dan ilmu yang dimiliki. Bila memiliki empat modal ini, yakin dan percaya tokoh itu akan kuat pengaruhnya bagi masyarakat.
Akan tetapi, tokoh yang lahir dari bawah bukan berarti itu terjadi secara alamiah, melainkan harus dicipta sedemikan rupa. Dengan satu syarat tambahan: keterpesonaan pribadi. Mahatma Gandhi bisa mempengaruhi masyarakat India sampai menjadi fanatik, karena pribadinya yang begitu memesona. Kesederhanaan, kebersahajaan, dan kewibawaan bisa menyatu dengan baik dalam kepribadiannya.
Keterpesonaan pribadi bisa juga disebabkan oleh kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Bila begitu, maka unsur-unsur lain seperti akhlak, kejujuran, keadilan, dan lain-lain sudah masuk di dalamnya.
*
Saya cukup sedih dengan teman-teman di kampus yang berusaha menjadi “tokoh” dengan cara yang instan. Tidak mendidik. Memaksakan diri. Entah apa lagi istilahnya.
Ada organisasi Islam di kampus yang ingin menokohkan ketuanya dengan cara memasang foto pada sarana-sarana publikasi seperti spanduk dan pamflet-pamflet. Jujur saja, saya kurang simpati melihat foto ketua salah satu organisasi Islam yang dengan pede terpajang pada spanduk ucapan, seperti “Selamat datang mahasiswa baru”, atau ucapan serupa lainnya yang pernah saya lihat.
Termasuk juga pada acara-acara seremonial organisasi yang menurut saya tidak perlu dipajang foto ketua pada sarana publikasinya.
Ada banyak saya lihat seperti itu. Namun, sedihnya, karena yang melakukannya adalah organisasi-organisasi Islam yang seharusnya bisa lebih mencerahkan. Ini kampus, Bung! Beda misalnya dengan ormas-ormas di luar kampus yang berusaha mempopulerkan pimpinannya melalui media. Itu tak “terlalu” menjadi soal. Namun, bila itu dilakukan di kampus yang penuh idealisme, orang-orang hanya akan muak melihatnya.
Ketua-Ketua BEM yang notabene pemimpin paling sah di kampus saja nyaris tak pernah melakukan seperti itu.
Mari sama-sama membenahi diri, termasuk saya pribadi, menjadi pribadi-pribadi yang memesona, memperbaiki kemampuan berinteraksi dengan orang lain, yakin dan percaya, “ketokohan” itu akan bisa dicipta.

1 komentar:

  1. menarik...
    partai minim tokoh bs jd krn mandeg kaderisasix

    BalasHapus