Senin, 09 Juli 2012

Spasi


: Fitrawan Umar 

Tahun 600-an masehi di tanah Arab, keadaan sosial masyarakat diliputi suasana jahiliyah. Patung-patung menjadi sembahan di mana-mana. Kakbah nan suci pun dikelilingi patung yang dianggap memiliki kekuatan. Belum lagi masalah-masalah sosial seperti hilangnya rasa kemanusiaan membuat Tanah Makkah menjadi suram.
Di saat seperti itu, seorang laki-laki memilih untuk sering merenung di sebuah gua. Gua yang tenang, jauh dari kehidupan kota Makkah. Ia merasakan sesuatu yang hampa melihat kondisi masyarakat. Ada hal yang tidak sesuai dengan hati nuraninya yang terdalam. Lelaki itu, Nabi Muhammad yang agung. Gua itu, Gua Hira, di puncak Jabal Nur.
Dari puncak Jabal Nur itu turunlah Al-Qur’an yang mulia. Kitab penyempurna kitab-kitab samawi lain. Kitab yang kemudian menjadi pedoman bagi mereka yang mengaku Allah adalah Tuhan, dan Nabi Muhammad adalah utusan. Kitab yang berhasil mengubah keadaan masyarakat jahiliyah Arab menjadi berperadaban.

**
Pada kisah yang berbeda, pada epik Mahabrata, dikisahkan sebuah kawah yang sangat populer, Kawah Candradimuka.  Di sana, konon, Gatot Kaca direbus oleh para dewa sehingga akhirnya menjadi perkasa. Memiliki otot kawat, tulang besi, kebal dari segala senjata, dan sakti mandraguna. Gatot Kaca pun berhasil menaklukkan Kala Pracona dan Wadya Balanya yang berusaha merebut kekuasaan Kahyangan.
**
Spasi adalah sebuah jarak. Spasi memisahkan sesuatu dari sesuatu yang lain. Spasi dalam suatu tulisan ialah apa yang memberikan jarak antara kata satu dengan kata lainnya. Spasi mungkin saja dianggap ‘kosong’ oleh sebagian orang. Namun, tanpa spasi, sesungguhnya suatu tulisan tak dapat diberi makna.
Spasi dalam terjemahan kehidupan bisa dipahami sebagai jeda antara ‘kehidupan’ satu dengan ‘kehidupan’ yang lain. Nabi Muhammad merasa jenuh melihat nuansa jahiliyah meliputi kehidupan Makkah. Maka, Gua merupakan spasi untuk menjedakan kehidupan Makkah itu dengan kehidupan yang dipahami oleh batinnya. Gua Hira, tempat pelarian untuk sejenak menjaga jarak dengan realitas.
Prinsipnya sederhana: kita tidak pernah mengenal apa itu siang jika selama ini kita hanya hidup dalam siang, tanpa keluar menuju malam walau beberapa jenak.
Spasi dalam kehidupan tak hanya mengenalkan kita lebih dalam terhadap suatu realitas, tetapi juga bisa menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi realitas itu. Perenungan Nabi Muhammad di Gua tidak sekadar untuk melarikan diri dari penatnya kehidupan. Tetapi adalah persiapan yang direncanakan oleh Allah agar Nabi Muhammad menjadi kuat untuk menerima beban yang teramat berat: mengubah peradaban!
Walau dalam konteks berbeda, Kisah Gatot Kaca dapat memperkuat dugaan pentingnya menarik diri dari realitas sementara waktu. Para Dewa menjauhkan Gatot Kaca kecil dari kehidupan peperangan, dan membesarkannya di dalam kawah. Dan kemudian, Gatot Kaca dikembalikan lagi ke kehidupan dengan segenap kekuatan tak terkalahkan untuk satu hal: memenangkan pertarungan!
**
Saat ini, tentu ada banyak alasan mengapa kita harus memberi ruang untuk spasi kehidupan. Sebab kehidupan sudah semakin rumit, buram, keruh, dan menjenuhkan. Kampus, masjid, sekolah, organisasi, atau taman-taman budaya, semua bisa menjadi Gua Hira kontemporer untuk tempat kita merenungi realitas. Pula, dapat menjadi Kawah Candradimuka untuk mengumpulkan kekuatan baru sebagai bagian dari perwujudan cita-cita: memperbaiki keadaan! 

*Salah satu tulisan di Buku Catatan Mahasiswa Biasa

1 komentar: