Jumat, 20 Juli 2012

Bulan Terbukanya Pintu Langit


SAAT hidup mulai diselimuti risau, maka harapan adalah jalan terindah menggairahkan hari-hari. Harapan yang menyala akan menuntun manusia meninggalkan segala keluh kesah hidup. Harapan itu pula yang memancarkan spirit baru untuk bangkit dari segenap persoalan yang melanda kenyataan. Harapan bagi umat muslim mewujud dalam doa-doa yang terrapal sehari-semalam, tak putus-putus.

Doa, kata Ibnul Qayyim, memiliki kekuatan yang amat dahsyat. Selain merupakan lawan dari musibah, doa akan menciptakan kemauan-kemauan yang positif, dan tentu saja akan menghidupkan semua potensi bagi si pemilik doa untuk bergerak, bangkit, dan berlari mengejar seluruh cita.
Tidak ada gunanya waspada menghadapi takdir,” kata Rasulullah, “Namun, doa bermanfaat menghadapi takdir, sebelum dan sesudah ia turun. Dan, sesungguhnya ketika musibah itu ditakdirkan turun, maka ia segera disambut oleh doa, lalu keduanya bertarung sampai hari kiamat.”
Adapun Ibnul Qayyim menegaskan, “Jika perisai doamu lebih kuat dari musibah, ia akan menolaknya. Tetapi, jika musibah lebih kuat dari perisai doamu, maka ia akan menimpamu. Namun, doa itu sedikitnya tetap akan mengurangi efeknya. Adapun jika perisai doamu seimbang dengan kekuatan musibah, maka keduanya akan bertarung.”
Seperti begitulah doa disiapkan Allah sebagai sarana mengharap pada-Nya. Sepenuh-penuhnya manusia sadar: sesempurna-sempurna dirinya, semaju-majunya ilmu pengetahuan, dan secanggih-canggihnya teknologi, tiada yang dapat lepas dari kekurangan dan berkebutuhan terhadap suatu hal. Sebagaimanapun manusia itu, pasti ada sisi ketidakberdayaan yang ia rasakan.
Dari kesadaran itulah manusia serendah-rendahnya berserah diri, setotal-totalnya bersimpuh kepada Allah, mengadukan ketidakberdayaan, dan mengharapkan keberdayaan. Manusia sadar, bukan Tuhan yang membutuhkan, melainkan manusia sendiri yang amat butuh pada-Nya. Tuhan pemilik segala, dan berkehendak terhadap segalanya.
Dalam Surah Al-A’raf disebutkan, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
Berdoalah. Allah pasti mendengar segala doa. Nabi Yunus pernah merasakan gelap di perut ikan paus. Berhari-hari. Tanpa cahaya sedikit pun. Nyaris tak ada harapan yang bisa terbit. Namun, dalam kesempitan itu, ia berdoa dengan segala kerendahan, memohon ampun, dan meminta keselamatan. Maka, terbebaskanlah ia. Allah punya cara sendiri mengabulkan doa hamba-Nya. Bukankah Dia yang menciptakan ikan paus?
Dalam Perang Badr, Rasulullah berdoa dengan seluruh pengharapan. Segenap kehendaknya dicurahkan kepada Allah dengan penuh kesungguhan, “Ya Allah, jika pasukan ini binasa, tidak akan pernah ada lagi di bumi ini yang akan menyembah-Mu, selamanya”. Lirih itu melantun terus-menerus. Ya, tidak ada lagi kekuatan lain dari tiga ratus pasukan muslimin untuk melawan seribuan pasukan Quraisy, selain doa-doa.
Akhir cerita tentu kita tahu, kaum muslimin menang dalam pertarungan. Allah menjawab doa Rasulullah dan kaum muslimin berupa bantuan bala tentara malaikat. Segalanya menjadi tidak mustahil bila Allah berkehendak.
Berdoalah. Allah pasti mendengar segala doa. Seorang miskin pernah berkeinginan menunaikan Rukun Islam ke-lima: Ibadah Haji. Secara materi, entah kapan ia mampu mewujudkan keinginan itu. Mungkin saja orang-orang di sekitarnya berkata mustahil, tidak mungkin, mana mungkin.
Akan tetapi, doa-doanya terus mengetuk langit. Tak henti-henti. Hingga ada saja cara Allah menurunkan rejeki-Nya. Allah mengabulkan doa seorang miskin dengan tak disangka-sangka. Tiba-tiba saja seorang kaya menawarinya berhaji, tanpa mengeluarkan uang sepersen pun. Begitulah Allah mengabulkan doa-doa.
Allah berfirman dalam Surah Al-Mukmin, “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”.  Ya, niscaya Allah akan memperkenankan doa-doa. Ini adalah sebuah keniscayaan.  “Allah itu Maha Mulia, dan merasa malu menolak ketika seseorang mengangkat kedua tangannya ke langit dan mengembalikannya dalam keadaan kosong dan kecewa,” sabda Rasulullah.
Berdoalah. Sebab doa adalah cara manusia merendah pada ketinggian Asma Allah. Doa berarti mengakui kehambaan diri kepada Sang Pencipta. Dengan doa, manusia akan berpaling dari kesombongan. Manusia akan merasa dirinya lemah, dan Allah itu Mahakuat. Sungguh, kesombongan adalah sesuatu yang di mata Allah sangat dibenci. Allah senang dengan hamba-hamba-Nya yang meminta apa saja. Allah senang dengan puji-pujian dalam doa.
Dahulu, seorang sahabat Rasulullah pernah ditegur. Sebabnya satu, ia selalu meninggalkan masjid setelah  shalat tanpa berdoa. Sehabis salam, bukannya berzikir dan berdoa, ia langsung beranjak. Olehnya, Rasulullah bersabda, “Apakah kamu sama sekali tidak punya kebutuhan kepada Allah?”
Firman Allah, “Sesungguhnya, orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”
Berdoalah. Berdoa apa saja. Ada orang yang berdoa untuk akhirat. Ada orang yang berdoa untuk dunia. Namun, berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat adalah bentuk keseimbangan hidup. Manusia boleh berdoa dari hal besar sampai sekecil-kecilnya. Seorang sahabat Rasulullah pernah berujar, “Bahkan garam pun kuminta kepada Allah.”
Ada yang menganjurkan, berdoalah setinggi-tingginya cita. Bila meminta syurga, mintalah syurga tertinggi. Begitupun hal-hal dunia, mintalah sebanyak-banyaknya. Sebesar-besarnya. Doa-doa itu akan menjadi obsesi manusia. Lalu, segala obsesi akan menggerakkan manusia berusaha mewujudkannya.
Berdoalah. Berdoalah dengan kesungguhan hati. “Doa itu senjata seorang mukmin, tiang agama, serta cahaya langit dan bumi,” kata Rasulullah. Bila berdoa, bertawasullah kepada Allah dengan Asma-Nya yang mulia. Sebutlah segala kebaikan yang pernah kita lakukan. Dan, jauhilah dosa-dosa. Sebab, dosa-dosa adalah penghalang antara manusia dengan Rabb-nya.
Apabila ada keraguan akan tidak terkabulkannya doa, maka pesan Ibnu Jauzi berikut perlu dicermati. “Teruslah berdoa dan jangan pernah bosan melakukannya. Karena mungkin, penundaan jawaban lebih baik bagimu. Atau bahkan, penerimaan itu sama sekali bukan maslahat bagimu. Tapi, kamu pasti diberi pahala, dan doamu dikabulkan dengan cara yang lebih bermanfaat bagimu. Dan boleh jadi, di antara manfaat itu bahwa permintaanmu tidak dikabulkan, tapi diganti dengan sesuatu yang lain.”
Berdoalah. Sungguh, di Bulan Ramadhan ini, pintu-pintu langit akan terbuka, mempersilakan doa-doa dari bumi melintasinya. Doa-doa itu akan diaminkan para malaikat, lalu dihadapkan kepada Allah.
“Doa orang berpuasa itu tidak akan ditolak,” sabda Rasulullah diriwayatkan Ibnu Majjah.  Dalam hadits qudsi, Allah berfirman: “Tiga doa yang tidak ditolak oleh Allah, orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan doanya orang yang teraniaya. Allah mengangkat doanya ke awan dan membukakan pintu-pintu langit.”
Berpuasa, hanyalah pekerjaan orang-orang beriman. Mereka yang berpuasa, tentulah terjaga hatinya. Mereka senantiasa mensucikan jiwanya. Menghindari diri dari perbuatan dosa. Maka, tentu saja cahaya doanya akan mudah sampai kepada Allah.
Allah mencintai orang-orang berpuasa. Puasa adalah satu-satunya ibadah yang hanya Allah dan orang menjalankannya yang ketahui. Di tengah lapar dan dahaga, dalam keadaan lemah, doa-doanya tentu saja tidak akan diacuhkan oleh Allah. Pun, pahala yang disiapkan untuknya berlipat-lipat banyaknya.
                Selain itu, doa juga adalah ibadah. Adalah kewajiban. Terlepas dari hasil apapun, tugas kita adalah berdoa. Selebihnya, kepada Allah saja kita berserah diri.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar