Kamis, 28 Juni 2012

Tentang Mata yang Paling Indah di Kampung Lilin


: Fitrawan
(Dimuat di Harian FAJAR Edisi Minggu, 24 Juni 2012) 

Adalah sebab tugas akhir penelitian Arga ke sini. Lagi pula, selama bertahun-tahun hidup di Pinrang sampai kuliah di Makassar, belum pernah sekalipun ia berkunjung ke daerah ini -padahal Bapak Presiden dari Jakarta pernah datang bertamu!
Di sini, Arga dibantu oleh kehadiranmu. Kamu mengantarnya ke sana-ke mari. Bertandang dari satu rumah ke rumah lain. Menunjukkannya jalan menuju hutan, membaca angin, menghitung bintang, dan segala rupa.

“Kedatangan Bapak Presiden menjadi awal kutukan desa ini,” sesal Pak Fajar, sang kepala desa, saat pertama kali Arga hendak memahami kehidupan Ulusaddang. Padahal, ketika itu semua warga bersuka cita menyambut kedatangan Bapak Presiden yang konon sudah dianggap berhasil melaksanakan REPELITA IV di negeri ini.
                Bila hendak kalian ke mari, bersiaplah menyusuri hutan, lalu membelah hulu sungai dengan perahu-perahu kecil. Kalian pasti pernah mendengar PLTA Bakaru. Di sinilah sumber listrik utama Sulawesi Selatan dan sekitarnya itu. Sekira 60 kilometer dari Kota Pinrang, tepat pada posisi paha atas bila diandaikan peta Sulawesi Selatan serupa orang rukuk.
***
Kamu pernah bercerita, sudah tidak banyak lagi harapan bisa tercipta dari desa ini. Para pemuda lebih memilih merantau ke kota sampai Malaysia, menjadi buruh bangunan, atau apa saja asal tidak mati ditelan limpasan sungai. Riwayat sawah-sawah dan kebun-kebun mereka sudah tamat, menyatu bersama aliran sungai yang serupa sayap memeluk lahan-lahan menjadi air. Sementara itu, tiap tahun berkubik-kubik pasir datang dari arah Mamasa, mengendap di bendungan, membentuk pulau-pulau pasir yang memuntahkan air sungai ke darat.
 “Di sini, kami hanya bisa menghitung waktu,” ujar Pak Fajar. Pasrah.
Namun, Arga heran. Mata orang-orang di sini sangat indah. Terutama matamu, Maya. Tentang matamu, semenjak berkunjung pertama kali di sini, Arga sangat sering mencari literatur tentang keindahan mata. Mengapa ada mata indah, seperti kedua butir matamu itu?
                Mata bentuknya relatif kecil dibanding indera lain di wajah. Tetapi ternyata sangat memengaruhi ketertarikan seseorang. Entah mengapa. Arga belum menemukan jawabannya sampai malam ini. Di mana faktor penyebab keindahan mata?
Malam ini, kamu mengajaknya ke suatu tempat di mana pohon-pohon terlihat suram membayangi perjalanan. Dua sinar tajam dari arah senter yang kalian punya membelah gelapnya rimbunan pohon menjelma hutan ini. Di atas sana, cahaya bintang-bintang berdesak-desak kesulitan menerobos celah-celah dedaunan. Maka hanya satu dua cahaya sampai ke Bumi, dan tidak menolong banyak perjalanan kalian di sini.
“Di sini,  kuburan Ibuku.”
 Gundukan pasir itu tiada terawat.
“Ibu tak kuat menahan penyakit semenjak ditinggal ayah merantau ke Malaysia.”
Tentang Malaysia, Arga ingat separuh desa ini hidup dari kiriman-kiriman perantau yang mengadu nasib di Tanah Jiran itu.
“Ayahku tidak punya kabar sampai detik ini.”
Dari berkasan sinar senter, ia perhatikan ada sendu di matamu. Tapi kalau dipikir, nasibmu masih lebih madu dibanding anak perempuan lain di desa ini. Mereka bernasib racun oleh hidup dari setiap hari merawat kebun, padahal setiap hari pula diancam pelebaran sungai. Kamu beruntung memiliki paman, Pak Fajar, yang menyekolahkanmu di kecamatan sana.
Hujan turun. Bukankah tadi masih ada cahaya bintang? Mungkin awan buru-buru menghapusnya di atas sana, tanpa kalian sadari. Kalian mencari-cari tempat berteduh. Barang kali di tengah kelebat hutan ini ada gubuk persinggahan.
 “Saya tahu, kenapa kamu tidak suka hujan.”
Matamu menyipit. Seperti berkerut sempit. Satu lagi yang tidak Arga mengerti tentang mata: dipermainkan bagaimanapun, matamu tetap indah!
Sejenak, Arga membiarkan matamu mencari jawaban di matanya. Tapi, ia selalu gagal dengan hal itu. Tak kuasa ia menahan sorot matamu.
***
Pada ruang-ruang gelap, iris pada mata akan membesar, sebab cahaya hendak diserap banyak-banyak. Cahaya itu-lah nanti akan berjalan menuju lensa dan difokuskan agar tepat jatuh di retina, kemudian perjalanan berlanjut pada saraf optik, dan terus menuju otak.
Rupanya, iris pada mata tadi, satu dari penentu keindahan bola mata. Iris ini memberi warna pada setiap mata. Penjajah yang berhasil masuk ke Pinrang dulu, punya mata kebiru-biruan. Prihal manakah mata indah, tentu setiap orang relatif jawabannya. Mungkin, remaja di kota memasang lensa mata biru oleh karena itulah dianggap indah. Meskipun agak dipaksa berserasian dengan kulit legamnya.
Semua mata warga Ulusaddang kelihatan indah –menurut Arga. Setelah lama mengamati, mata indah itu dikarenakan oleh iris mata yang sering membesar sebab listrik tiada di malam gelap di desa sumber listrik ini. Iris mata mereka berwarna hitam pekat, tajam, berpadu dengan sklera putih nan bersih mengesankan pesona keindahan mata yang amat dalam.   
Segala hal bisa berhulu dari mata. Apatah lagi hanya soal perasaan. Sungguh, hati-lah paling terikat oleh mata itu. Mata indahmu, Maya, dibawa oleh cahaya yang diterima kornea mata Arga. Seterusnya berjalan sampai ke otak, dan direspon oleh perasaan.
Tentulah Arga tak sanggup melawan perasaan sendiri, tatkala semalam kalian berteduh di gubuk. Pakaianmu yang terlanjur dijatuhi hujan, basah, memiliki aroma tersendiri. Aroma yang dicium Arga itu, seketika merasuki sukmanya tepat saat mata kalian beradu dalam gelap. Iris mata kalian membesar, memaksa cahaya masuk agar kalian masih tetap bersitatap. Tatkala hujan semakin menderas, lupalah kalian ajaran Aluk to Dolo, ajaran orang dulu.
***
Arga masih menyempatkan diri mengikuti tudang sipulung warga di rumah Pak Fajar. Ada amarah berkumpul dalam musyawarah itu. Sampai hari ini, uang ganti rugi tanah belum mereka terima. Yang ada dalam tabungan mereka, hanya janji-janji dan mimpi-mimpi dari pemerintah daerah, anggota dewan, pimpinan PLN serta PLTA Bakaru.
 “Apa lagi tuntutan kita ke DPRD?”
“Selain tetap memperjuangkan ganti rugi akibat tenggelamnya sawah dan kebun kita, listrik juga sudah harus masuk ke semua desa. Sungguh tidak adil, di sini tempat pembangkit listrik untuk banyak kabupaten, sementara kita sendiri tidak menikmati listrik itu. ”
“Pak, sampaikan juga agar semua akses jalan menuju kota bisa diperbaiki lagi. Pembangunan jalan yang dulu sepertinya tidak serius.”   
“Bagaimana pendapatmu, Adik Mahasiswa?”
Sedari tadi, Arga hanya terdiam mengikuti rel pembicaraan.
“Setuju, Pak. Saya akan bantu sebisanya. Saya punya banyak teman LSM di Makassar.”
***
Seusai tudang sipulung itu, Arga pamit meninggalkan Ulusaddang tanpa kamu ketahui. Kamu kira, ia hanya pergi sementara, seperti selama ini yang kembali ke kota tiap dua minggu. Kamu juga tahu persis jika penelitian Arga belum usai. Namun, kamu lupa, pria selalu punya alasan untuk menghindari sesuatu hal.
Entah apa pula dalam pikiran Arga, mungkin sudah dimakamkannya jauh-jauh prihal penelitian itu. Ia tentu saja tidak kuasa menghadapi perkara akibat perbuatan kalian di gubuk malam itu. Selain pula, ia menyerah sebab begitu sulit menyelesaikan penelitian pengembangan wilayah daerah yang hampir mati ini.
Kamu pun menunggu. Begitulah sering cerita bermula, awalnya dari mata. Arga selalu kagum dengan mata indahmu. Secara diam-diam, kamu pula suka menatap pesona Arga –seorang mahasiswa, berpendidikan, cukup tampan dan baik di mata warga Ulusaddang. Perempuan memang punya cara tersendiri mencintai.
Di sekitaran bendungan PLTA Bakaru, kamu menatap bintang-bintang. Mengerlap-mengerlip. Di sebelahnya, ada bulan. Bulan pun membulat, setiap malam beberapa bagian bulatannya menghilang, persis kue surabeng yang pernah kalian makan berdua. Setiap malam seperti itu.
Hingga purnama sudah muncul ketiga kali. Perutmu sudah terendus oleh Pak Fajar. Mengakulah kamu bahwa benih Arga sedang kamu timbun. Kamu ceritakan segalanya dengan uraian air mata. Berurai-urai lebatnya. Betapa murka warga Ulusaddang tatkala angin membawa kabar tentang itu.
Belum juga reda amarah mereka oleh karena PLN tak mau mengakui jika sawah dan perkebunan warga terendam akibat penumpukan pasir di bendungan PLTA Bakaru, kini harus terpukul sebab saudara sekampungnya dinistai seorang mahasiswa kota, serupa bejatnya dengan pejabat-pejabat yang tak peduli dengan nasib Ulusaddang.
Di sebelah bumi lain, Arga kembali ke Makassar. Menyusun ulang tugas penelitian dengan objek berbeda. Ulusaddang dan Bakaru sudah jadi kenangan buatnya. Meski demikian, ia selalu ingat dengan kenangan itu ketika sadar bahwa lampu terang, listrik yang menghidupkan laptop, dan segala kebutuhan lain semua harus berterimakasih kepada Ulusaddang dan Bakaru. Sulit pula ia lupa mata Maya. Ah, mata sesungguhnya sama dengan jiwa. Bersamaan mendeteksi cahaya. Tanpa mata, kita buta. Tanpa jiwa, kita mati.
 Makassar-Yogyakarta, April-Mei 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar