Selasa, 05 Juni 2012

Sudahkah Kita Peduli Lingkungan?



:Fitrawan Umar


Benarlah apa yang pernah diucap Mahatma Gandhi, bahwa dunia ini mampu menampung semua kebutuhan manusia. Tetapi tidak akan sanggup memenuhi keinginan atau nafsu manusia. Beragam polemik umat manusia dewasa ini, tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh keserakahan nafsu manusia.
Nafsu politik menjadikan manusia akan bertindak apa saja dalam merebut kekuasaan, lalu kemudian menjadi rezim otoriter demi mempertahankan kekuasaan. Nafsu ekonomi membuat manusia menghalalkan segala cara, dari mencuri, korupsi, penipuan, sampai menggerus kekayaan alam seperti menghabisi hutan, demi memperoleh uang.

Kasus-kasus kerusakan lingkungan ialah contoh paling nyata serta membahayakan bagi manusia dan seluruh alam. Lingkungan terus menerus dijarah, dieksploitasi sedemikian rupa, seolah manusia adalah penguasa alam raya. Istilah-istilah bencana semacam pemanasan global, kebakaran hutan, badai salju, banjir, longsor, kekeringan, gelombang panas, dan naiknya permukaan air laut menjadi tak asing di telinga kita.
Bila keadaan semisal ini terus menerus berlanjut, maka di masa depan, cerita kehidupan akan dipenuhi dengan kesengsaraan dan kesedihan. Lingkungan, wajib untuk tidak dibiarkan menjadi momok penderitaan generasi mendatang.
Pendidikan Lingkungan
Maka, kesadaran tentang lingkungan sangat penting ditanamkan kepada masyarakat. Kita bersyukur, sejak Tahun 1984, pendidikan lingkungan hidup dimasukkan ke dalam sistem kurikulum pendidikan formal. Di mana persoalan lingkungan hidup dituangkan secara integratif ke dalam semua mata pelajaran.
Setelah itu, Tahun 1996, terbit Memorandum Bersama antara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup. Selanjutnya, rutin diadakan penataran guru, menggelar bulan bakti lingkungan, penyusunan modul pengajaran, program sekolah asri, dan lain sebagainya. Hingga saat ini, persoalan lingkungan masih terus diajarkan. Bahkan, di beberapa daerah, pendidikan lingkungan hidup sudah menjadi mata pelajaran untuk muatan lokal.
Namun, cita-cita pembentukan karakter melalui pendidikan lingkungan hidup rupanya kalah cepat dari kencangnya arus kerusakan lingkungan. Kita berharap terlalu banyak pada pendidikan sementara skala masalahnya sangat luas. Kita harus sabar menanti sementara bencana lingkungan kian menghantui. Bisa jadi, proses belajar kita memahami lingkungan akan lebih dulu ditelan oleh banjir, dilahap oleh api sisa kebakaran hutan, ditenggelamkan oleh naiknya permukaan laut, dimatikan oleh kekeringan, dan dibekukan oleh badai salju.
Pendidikan lingkungan selama ini mungkin memang lebih mudah diterima oleh peserta didik. Sebab materi tentang lingkungan biasanya adalah materi umum dan tidak menemui kesulitan bagi sekolah dasar dan menengah. Begitu pun dengan perguruan tinggi, karena materi lingkungan bisa mencakup semua disiplin ilmu.
Namun, yang menjadi persoalan ialah terjebaknya pendidikan lingkungan pada kurikulum yang sifatnya statis dan monolitis. Pendidikan lingkungan hari ini lebih banyak mewujud dalam buku, modul, dan sejenisnya. Aspek yang dikena adalah hapalan dan kognisi. Ini sama saja dengan PPKn bahkan Pendidikan Agama yang dianggap belum efektif membentuk karakter peserta didik.
Bisa kita perhatikan, kedua mata pelajaran tersebut adalah pelajaran paling mudah dan banyak sekali yang mendapat nilai 80 hingga 90. Namun, nilai-nilai itu rupanya tidak mewujud dalam karakter pribadinya sebagai peserta didik yang berkewarganegaraan dan beragama.
Pendidikan seyogianya diarahkan pada upaya mengembangkan potensi, daya pikir dan daya nalar, serta pengembangan kreativitas yang dimiliki. Pendidikan lingkungan secara khusus juga semestinya mampu menyentuh ketiga hal tersebut.     
Pendidikan lingkungan lebih condong pada aspek afektif –meski aspek kognitif tak berarti ditinggalkan. Yakni menekankan pada tingkah laku, nilai dan komitmen. Para pendidik dituntut mampu mengemas pendidikan ini menjadi lebih menarik dan terjadi proses internalisasi nilai di dalamnya.
Beberapa contoh sangat bagus pernah diterapkan beberapa sekolah, seperti melibatkan anak pra sekolah dan sekolah dasar dalam pembersihan lingkungan. Misalnya juga, bagi sekolah menengah, dilatih untuk mendaur ulang limbah, melakukan kunjungan terhadap kasus kerusakan lingkungan, dan mempelajari kearifan lokal di suatu tempat dalam melestarikan lingkungan. Sedangkan perguruan tinggi, bisa melalui pelibatan dalam seminar, kampanye penyelamatan lingkungan, dan penyehatan atau perbaikan lingkungan melalui program KKN (kuliah kerja nyata).
Teologi Lingkungan
 Sama dengan pendidikan, ruang agama menjadi penting untuk mengambil peran dalam mencipta pribadi-pribadi yang peduli terhadap lingkungan semesta. Kesadaran bertuhan mesti dihadirkan dalam merespon masalah-masalah lingkungan.
Semua tahu, lingkungan ialah anugerah, titipan Ilahi untuk semua kita. Baik generasi lalu, hari ini, maupun generasi mendatang. Lingkungan boleh disebut sebagai subyek sekaligus obyek dalam perjalanan kehidupan manusia.
Namun, dalam perjalanan, manusia menjadi titik sentrum, dan lingkungan dianggap hanya sebagai upaya untuk memenuhi keinginan dan tuntutan dari manusia itu sendiri.
Semua agama mengajarkan bahwa manusia bukanlah Tuhan di bumi yang boleh bertindak apa saja terhadap alam. Bahkan, dalam beberapa keyakinan, unsur-unsur alam justru dijadikan Tuhan atau perwakilan Tuhan oleh manusia. Ini mengingatkan betapa sesungguhnya secara naluriah manusia begitu menyadari pentingnya lingkungan untuk dijaga dan dilestarikan.
Dalam Islam, misalnya, kita sudah diingatkan bahwa, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yan benar)” (Ar-Rum:41).
Sebuah hadits juga mengajarkan kita agar terbiasa untuk menanam pohon, sebab menanam itu sama dengan sedekah. “Seorang muslim yang menanam pohon atau tanaman, lalu sebagian hasilnya dimakan burung, manusia, atau binatang, maka orang yang menanam itu mendapat pahala.” (H.R.Al-Bukhari).
Penulis teringat dengan lomba da’i yang digelar Departemen Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulsel yang mengangkat tema tentang perlindungan laut dan terumbu karang pada Tahun 2008. Tentu saja ini adalah langkah progresif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan melalui pendekatan khutbah atau ceramah-ceramah. Meminjam istilah Pengurus Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulsel, contoh demikian disebut dengan “Dakwah Lingkungan”.
Para orang tua dulu, menjadikan mitos-mitos sebagai rem pengendali agar manusia tidak menghancurkan lingkungan. Di zaman serba nalar ini, tentu saja pendidikan dan agama menjadi relevan dan perlu selalu untuk ditingkatkan.
Tanggal 5 Juni ini adalah momen untuk menyadari kembali hakekat keberadaan kita di muka bumi. Selamat Hari Lingkungan Hidup!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar