Sabtu, 30 Juni 2012

Sepotong Cokelat yang Pahit dan Manis, juga Lumer[1]


Sebuah Tinjauan dan Perbandingan
Pembedah: Hamran Sunu[2] 



Sastra pertama-tama hadir untuk menghibur.
Kemudian dikritisi
(YB Mangunwijaya)[3]


Para pengarang legendaris dunia telah memberikan banyak contoh cerpen yang dianggap berhasil. Cerpen Ernest Miller Hemingway[4] yang sederhana misalnya, senantiasa membawa pesan tersirat yang lesak. Beliau menghidupkan seluruh karakter dalam tulisannya dengan cerita sederhana, penuh dialog, alur yang runtut, pula secara cerkas dan proporsional membuat peran tokohnya tampil, kuat, dan mengesankan tanpa perlu berpanjang-panjang. Bagaimana dengan kedua belas cerpen yang dibukukan dalam buku kumpulan cerpen Sepotong Cokelat dan cerita-cerita yang lain? Apakah cerpen-cerpen di buku ini telah memikat, dan berhasil? Tentu saja, tak dapat secara picik memandang sebuah cerpen hanya dengan melulu membaitkannya pada cerpen Hemingway semata. Banyak perkara lain yang laik dipertimbangkankan. Termasuk membaca beberapa cerpen (is) lain.

Tokoh Sentral yang Sibuk dengan Dirinya
Ada beberapa temuan yang mencirikan kesamaan beberapa cerpen dalam antologi ini. Jika Papa Ernest, peraih Nobel Sastra tahun 1954 ini menyibukkan seluruh tokohnya dengan karakter yang kuat dan berpengaruh. Maka sebaliknya, di kumpulan cerpen ini, beberapa tokoh sibuk dengan dunianya. Sementara Hemingway menjadi sutradara untuk ceritanya, maka beberapa cerpen di sini seolah dibaca oleh penulis dalam sebuah pertunjukan monolog. Jika satu tokoh mendominasi, maka kemungkinan pembaca tak akan menemukan bentuk dialog. Toko itu akan mengembangkan dirinya dengan kemungkinan berimaginasi tanpa batas dalam deskripsi bertele. Padahal dialog menurut Hemingway, adalah yang menghidupkan karakter dan cerita.
Pada cerpen karya Rasdianah ND, Perempuan Ibu misalnya, tokohnya 2 wanita yang menaut konflik dengan lelaki. Tokohnya 70 persen berfokus pada aku sebagai pencerita. Kemudian ibunya. Menurut saya tokoh aku terlalu sibuk bercerita tentang dirinya, sehingga memerlukan halaman panjang yang menurut hemat saya masih dapat diringkas. Tengoklah Hemingway dalam cerpen Pengaduan[5], pada cerpen ini, ia menggunakan sudut pandang aku. Namun, tokoh aku tak lantas hanya sibuk dengan dirinya. Ada pelayan, Luis Delgado, karakter kolektif pengunjung bar, dan gambaran sederhana namun gamblang tentang latar tempat Bar Chicote’s. Maka, pada cerpen Perempuan Ibu, ada potensi menghadirkan lelaki, dan tokoh lain sehingga membuat cerpen ini berdenyut dan alur yang dinamis.
Cerpen ini fokus sekaligus bertele; dan rumit. Ada paragraf yang sebenarnya dapat dipenggal. Asma Nadia[6] menyebut, sebuah cerpen masih dianggap panjang atau bertele jika kita masih dapat memangkasnya lebih pendek. Pada cerpen Cermin yang berkisah tentang seorang pejabat korup pula demikian. Untung saja cerpen berjenre surealis ini mengangkat tema aktual yang bersinggungan dengan isu sosial. Cerpen yang menggugah secara kolektif biasanya menarik dan menggerakkan. Namun, alasan itu tidak lantas membuat cerpen ini tak “egois”, sebab, rakyat digambarkan sebagai objek dalam kacamata tokoh utama, bukan sebagai subjek. Pelaku.
Cerita tentang cokelat sudah terlalu umum, jika ingin membuatnya buatlah cerita dengan ide dan penggarapan yang unik. Cerpen Sepotong Cokelat tidak memiliki keunikan. Sedang pada cerpen Meminjam Sepasang Mata, hal yang patut dipersoalkan adalah tunanetra yang hobi joging sambil mendengarkan musik. Tunanetra akan mengalami kesulitan berlari kencang, apalagi sambil mendengarkan musik. Telinga apalagi bagi tunanetra, merupakan alat keseimbangan pada saat berjalan.
Namun, saya tidak menyimpul cerpen-cerpen tersebut lebih buruk atau lebih baik dari karya Hemingway. Bahkan, cerpen Perempuan Ibu merupakan cerpen dengan karakter yang paling kuat dan hidup dalam kumpulan cerpen ini.
                Setiap penulis punya cara khas yang tak dapat digugat kekaryaannya. Namun sebagai panutan dunia sastra yang karyanya melegenda, karya-karya Hemingway patut diapresiasi. Laik diteladani. Bahkan Ezra Pound[7] menahbiskannya sebagai pengarang prosa dengan gaya terbaik di dunia.

Warna Lokal dan Kearifan Lokal
Ahmad Tohari[8] yang baru saja menjadi participating writer Makassar International Writers Festival 2012, mengungkap bahwa eksplorasi kearifan lokal merupakan salah satu kunci sukses ia dapat banyak menuturkan berpuluh kisah, tentu saja dengan tema lokal. Contoh betapa kayanya nuansa lokal dalam karya Ahmad Tohari, dapat ditelisik pada buku kumpulan cerpen Senyum Karyamin[9].
Cerpen-cerpen karya Supriadi Herman seluruhnya beraroma lokal. Dalam cerpen Jampi-jampi Kota, diceritakan sepasang suami istri warga Kajang yang melanggar aturan adat. Mereka terpaksa karena terdorong oleh keinginan memperbaiki nasib di kota, walau ternyata tidak sesuai harapan. Ending cerpen ini cukup manis dan realis, mengetengahkan dua kenyataan pahit yang harus diterima kedua tokoh utama, namun cerpen ini terkesan menggurui di bagian awal. Cerpen kedua, Perempuan Songka memapar tokoh utama sebagai perempuan peramu nikmat yang konfliknya berlangsung di tengah keluarga inti dan warga sekitar. Cerpen ini memiliki pautan tokoh yang potensial untuk dijelajah keunikan konfliknya. Ending cerpen Perempuan Songka punya kasus yang sama dengan cerpen 13. Ending yang tak manis dan terkesan dipaksakan. Kebetulan yang tak mengherankan saya:
“Lalu, anaknya yang lain? Mungkin sudah mati terlalap api. Semua anaknya tadi dalam keadaan terlelap tatkala mereka ke rumah Yasmin. Hari itu tepat Tanggal 13…”

Sedang pada Perempuan Songka:
“Tepat saat aku merengek di kakinya, tak sengaja aku buka sarung yang ia kenakan. Kulihat persis tahi lalat di selangkangan keriputnya sangat mirip dengan tahi lalat punyaku.
“Kalau begitu ibu juga perempuan songka!” Teriakku lantang. Amarah orang tua bermuka kasar itu memuncak. Setelah itu, ia kembali melayangkan cakaran dan pukulan di wajahku. Aku tak melawan, teronggok, menangis sejadi-jadinya.”

Selain kebetulan yang menurutku memaksakan logika. Kebetulan itu secara tatabahasa sebenarnya tak terlihat: tak sengaja aku buka sarung yang ia kenakan. Kalimat ini janggal karena siratnya tak menjejak kesengajaan. Kemungkinan yang harusnya ditulis adalah: tak sengaja sarung yang ia kenakan terbuka. Atau; tak sengaja sarung yang ia kenakan tersingkap.
Karaeng Loeta punya keunggulan lebih dibanding tiga cerpen lain. Fiksi ini memiliki atribut yang nyaris sempurna, tokohnya yang matang dan “sibuk”, konflik yang tajam dan intes, serta ending yang membikin penasaran dan cukup tak terbaca, meskipun ending sepola ini telah banyak digunakan oleh penulis lain.
Yang perlu segera ditinjau tentang kelokalan adalah, apakah penulis (masih) berada pada kisar warna lokal atau (telah) berada pada jelajah kearifan lokal. Atau dengan arung yang lebih larut dengan melibatkan keduanya[10]?
Kisah dalam cerpen Perempuan Songka, dalam aksen lokal lain dengan mudah dapat kita temukan. Wanita peramu nikmat dalam masyarakat lokal mana pun tentu akan mendapatkan tentangan dari masyarakat sekitar, entah sebutannya songka, perek, salome, lonte, senok, dan sebagainya. Sedang tahi lalat di sekira kemaluan, saya kira juga merupakan mitos umum yang berlaku juga di daerah lain. Pada cerpen Jampi-jampi Kota dan Karaeng Loeta juga demikian. Ini sepenuhnya tentang warna lokal. Jika pun telah menerabas kearifan lokal, maka sentuhannya masih minim:
“Baju hitam yang selalu siap di lengan, sarung hitam yang dijadikan bidak di pinggang, dan ikat kepala hitam yang dijadikan tameng matahari yang tak hitam. Sayangnya, tak ada sandal hitam! Mungkin bila mereka cukup pandai membuat sandal, pastilah sandal itu berwarna hitam juga.”

Kutipan di atas adalah warna lokal khas Kajang yang (kemungkinan) tidak terdapat di daerah lain dan berpotensi menjadi kearifan lokal. Syaratnya adalah penulis dengan ulet menggali nilai-nilai luhur yang khas dari simbol penggunaan warna hitam dalam banyak aspek kehidupan orang Kajang.

Perhatikan contoh cerpen Kuntowijoyo[11] berikut ini:
“Ia menaburkan beras kuning, tanda kemenangan, dan mengucapkan mantra, “Rem rem sidem premanem,rem rem sidem premanem, rem rem sidem premanem.”Gurunya menyebut jimat  itu dengan Begananda, aji penyirep yang diturunkan oleh Raden Indrajit, pangeran dari Alengkadiraja. Begananda telah menidurkan prajurit Rama, dan akan menidurkan orang-orang yang menjaga kuburan. Setelah selesai satu arah, ia harus bergerak ke arah lain. Setelah selesai dengan kiblat papat, arah yang keempat, dan orang-orang sudah tertidur, ia harus menaburkan beras kuning yang kelima.”

Kuntowjoyo amat piawai dan mahsyur bercerita dengan khasanah sosiologi antropologi yang arif dan dahsyat. Dalam cerpen Rumah-rumah yang Terbakar karya beliau, juga demikian.

Kerapatan Alur dan Kemulusan Bercerita
Alur yang rapat dan fokus tampak terlihat pada cerpen Perempuan Ibu, hal itu difasilitasi oleh sedikitnya tokoh yang berperan. Namun cerpen ini tidak cukup lugas dan terkesan menggurui. Cerpen-cerpen Fitrawan Umar rupanya telah cukup matang mengalur. Juga memiliki ketenangan dalam bertutur. Pada cerpen Setelah Ibu Tiada, potensi konflik hingga memasuki ambang konflik dan konflik tersaji mulus sejak awal hingga akhir.
Demikian pula pada cerpen Seperti Cerita Menjelang Kepergian, dan Cerita Terakhir. Tetapi alur yang rapat mulus dan tenang, tidak dapat diterapkan pada semua cerpen. Cerpen Riana, misalnya. Kalau yang dimaksudkan penulis sebagai ketenangan yang mengejutkan pada bagian akhir, saya hanya mampu “cukup” terkejut. Mungkin karena ada kesan, akhir yang demikian telah dijangkau pembaca sejak Riana menyentuh payudara Vira, dan saat Riana tidur tanpa busana.
Pandangan ini relatif, mungkin karena saya telah terbiasa membaca alur semacam ini. Mungkin saja pembaca lain akan mengalami kejutan yang tenang yang efek henyaknya dirasakan jauh setelah itu. Kejutan yang tenang, memang jauh lebih sulit dikemas dibanding dengan kejutan yang menegangkan.
Cerpen Riana walau pun mulus, tak ubahnya laporan perjalanan seorang wartawan untuk rubrik feature. Kota Hongkong dan Macau tergambar faktual dan lugas. Padahal dalam sastra ada sentuhan yang laik dicoba diceburkan ke dalamnya: mencuatnya pergumulan emosi yang digali dari simbol-simbol yang dipapar dan dikaitkan dengan tokoh, latar, atau pun alur dalam cerpen.

Perhatikan kutipan cerpen Riana:
RUAS-RUAS jalan Tsim Sha Tsui belum sepi. Mulai pagi sampai malam silih berganti manusia hilir mudik di sepanjang jalan Nathan Road. Pada salah satu bangunan di sisi jalan itu, kami menginap. Di Taiwan Hostel. Benar-benar penginapan sederhana. Konon, hostel ini menjadi pilihan menarik para backpacker bila berkunjung ke Hong Kong. Tak jauh dari sini, terdapat Hong Kong Islamic Centre, dekat Kowloon Park. Begitu pula, kami hanya perlu berjalan kaki tak sampai tiga puluh menit untuk sampai ke Victoria Harbour (dua hari ini, setiap jam delapan malam kami ke sana, menyaksikan A Symphony of Lights).

Simak kutipan cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan[12]:
Marno mulai memasang rokok lalu pergi berdiri di dekat jendela. Langit bersih malam itu, kecuali di sekitar bulan. Beberapa awan menggerombol di sekeliling bulan hingga cahaya bulan jadi suram karenanya. Dilongokannya kepalanya ke bawah dan satu belantara pencakar langit tertidur di bawahnya. Sinar bulan yang lembut itu membuat seakan-akan bangunan-bangunan itu tertidur dalam kedinginan. Rasa senyap dan kosong tiba-tiba terasa merangkak ke dalam tubuhnya.

Atau cerpen Angin yang Menari di Divan Yolu[13]:
Namun yang saya dapatkan adalah kebingungan yang menyesakkan. Tidak bisakah saya mengubah diri seperti Aya Sofya di sana. Diubah dari gereja lalu masjid dan kini museum. Dari peradaban Romawi, Nasrani lalu Islam yang membuatnya jadi harmoni. Kita terlalu tepat (atau tidak sama sekali!) untuk bersua di sini, sebab seolah kita direinkarnasi dari kegemilangan sejarah masa lalu yang terpatri di sini.

Kedua cerpen di atas memamparkan simbol kota yang dikaitkan dengan gambaran diri tokoh secara emosional.

Membunuh Tokoh: Limitasi Kreasi
Apakah mematikan tokoh menurutmu keren?
Cerpen 13, Karaeng Loeta, Setelah Ibu Tiada, Seperti Cerita Menjelang Kepergian, dan Cerita Terakhir. Inilah beberapa cerpen dengan adanya kematian salah satu tokohnya. Kematian salah satu tokoh dalam cerita, memang adalah salah satu cara mengembangkan alur atau menggerakkan tokoh, juga kerap menjadi pilihan akhir cerita. Namun jika tak berhati-hati dan sadar, mungkin saja kita ternyata ingin berlindung dan menyelamatkan diri dengan “kematian” salah satu tokohnya. Akan tampak terasa lebih mudah mengembangkan alur dengan mematikan salah satu tokohnya. Tapi, jika tak piawai dan wajar, pembaca akan segera tahu bahwa kematian ini seolah terencana oleh penulis sebagai jalan pintas menggenapkan atau menuntaskan cerpen.
Dengan menganggap alur, setting, konflik, dan ending akan lebih mudah (penulis hampir pasti tidak menyadarinya), maka penulis tanpa sadar mengkerangkeng gapaian ide dan mahakreativitasnya ke limit tertentu saja. Ada banyak cara untuk meramu unsur-unsur cerpen tanpa harus membunuh tokohnya. Jika dilakukan, maka hukum karma boleh jadi berlaku: cerita itu, pula akan membunuh Anda perlahan-lahan. Berhati-hatilah.

PotonganTerakhir
Apakah cerpen-cerpen dalam cerita ini berhasil? CUKUP berhasil. Seluruh cerpen suda cukup baik menggambarkan cerita, dan ada pesan yang mencuat pada akhirnya. Hanya butuh proses bagi ketiga penulis untuk lebih mematangkan karyanya. Kali berikut, saya hakkul yakin, tulisan-tulisan mereka bakal kaya warna, kuat, dan khas juga lumer dan nikmat di benak pembaca.
                Bedahan ini sarat kritik yang mungkin berdarah-darah. Namun demikianlah peran pembedah, haruslah amanah. Dilakukan sedaya mungkin. Setiap cerpen yang lahir, akan bergenap dengan ruh, kemudian hidup sebagaimana insan. Maka manusiawilah jika cerpen-cerpen di sini memiliki kekurangan juga kelebihan. Persisnya cokelat yang manis dan (juga) pahit: Nikmat. Bukankah kenikmatan itu berbakal asal paduan antara pahit dengan manis?

Salah satu cokelat terbaik?
Atau salah satu yang termahal?
Itu sulit dibedakan.
Rasa cokelat sama saja kukira, manis yang beradu pahit.
Lumer dan lengket di mulut; meninggalkan jejak pekat. Apalagi?[14] 



[1]Materi dibawakan pada bedah buku kumpulan cerpen Sepotong Cokelat dan cerita-cerita yang lain. Merupakan Rangkaian Musyawarah Wilayah  Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Sulawesi Selatan, di Aula Man Model Makassar, Sabtu, 30 Juni 2012.
[2] Dewan Pertimbangan Organisasi FLP Wilayah Sulawesi Selatan.
[3] Sastrawan Indonesia, penulis novel Burung-burung Manyar.
[4] Salah satu sastrawan legendaris terbaik dunia asalAmerika, peraih nobel sastra tahun 1954. Menulis novel dan cerpen. Sebelumnya adalah wartawan dan sukarelawan Perang Dunia I.
[5] Terdapat dalam kumpulan cerpen The Fifth Column. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Angkatan Kelima, oleh penerbit Pedati tahun 2003.
[6] Salah satu penulis perempuan Indonesia pendiri Forum Lingkar Pena (FLP). Telah menulis lebih dari 40 judul buku (solo dan antologi). Kerap diundang membawakan materi dalam seminar penulisan dan keperempuanan.
[7] Penyair dan kritikus sastra Amerika. Dia adalah salah satu tokoh awal penyair dengan  bentuk dan gaya yang modern.
[8] Sastrawan Indonesia penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk. Karya-karyanya berupa novel dan cerpen dikenal luas sebagai karya yang selalu mengusung tema lokal. Juga kesederhanaan para tokoh-tokohnya dari kalangan menengah ke bawah.
[9] Kumpulan cerpen terdiri atas 13 cerpen. Diterbitkan oleh Gramedia tahun 1989.
[10]Ada perbedaan antara kearifan lokal dengan warna lokal. Kearifan lokal dapat diartikan sebagai pemaparan secara langsung atau tidak langsung nilai-nilai filosofi yang menjadi ciri khas masyarakat etnis tertentu yang digambarkan dalam tema dan atau setting cerpen atau novel, kearifan lokal bersifat substantif. Sedang warna lokal berciri teknis, sedang warna lokal adalah karakteristik lokal yang mengacu pada idiom-idiom etnis yang sifatnya khas, seperti aksen daerah, dan istilah tertentu. Warna lokal bersifat substantif.
[11] Sastrawan Indonesia dan juga guru besar sejarah Universitas Gajah Mada (1943-2005). Anjing-anjing Menyerbu Kuburan terpilih sebagai Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 1997.
[12]Cerpen terbaik Umar Kayam. Cerpen ini diterbitkan dalam 13 bahasa lainnya dalam  sebuah buku kumpulan cerpen. Diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 1999.
[13] Cerpen ditulis oleh pembedah.
[14] Cerpen Chocoholic, karya pembedah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar