Selasa, 26 Juni 2012

Pilkada dan City Branding


 : Fitrawan Umar
(Dimuat di Harian FAJAR, Kamis 21 Juni 2012)

Hal menarik yang tak pernah luput dari perhatian saya bila melintasi gerbang utama tiap kabupaten dalam perjalanan Pinrang ke Makassar, atau kabupaten apa saja di Sulsel, ialah slogan tiap-tiap kabupaten. Sebut saja Pinrang Berseri, Parepare Bersahaja, Barru Hibrida, Maros Baik, dan lain-lain.
Tapi, itu dulu. Slogan-slogan yang pernah jaya, kini nyaris lenyap dari ingatan publik. Bukan hanya karena ketidakpahaman pemerintah daerah tentang pentingnya slogan sehingga tak lagi dipopulerkan, melainkan juga dipengaruhi oleh munculnya mekanisme sosial yang dikenal dengan pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Pilkada secara langsung menuntut adanya usaha keras dari para calon jika ingin memenangkan ‘pertarungan’. Oleh karena itu, beragam pula cara mereka lakukan guna mendapatkan simpati rakyat, seperti di antaranya pertarungan slogan politik.
Celakanya, dalam beberapa kasus, slogan politik ini kemudian menjelma menjadi slogan kabupaten/kota jika kandidat yang memomulerkan slogan tersebut berhasil memenangi pemilihan. Hal ini tentu saja dilakukan untuk kepentingan jangka panjang politisi bersangkutan, sekaligus hanya untuk kepentingan jangka pendek bagi daerah.
Sebutlah misalnya slogan “Makassar Kota Dunia” yang tiba-tiba populer beberapa tahun terakhir. Slogan ini, entah dipikirkan secara matang dan rasional atau tidak, kemudian menegasikan slogan Kota Makassar seperti “Makassar The Great Experience”. “Makassar Kota Dunia” yang notabene bukan brand resmi yang disepakati, justru lebih dipopulerkan sebab kepentingan politik, dibanding brand “Makassar The Great Experience” yang sering dipampang pada acara-acara wisata.
City Branding
Dalam disiplin ilmu pengembangan wilayah dan kota, city branding secara sederhana diartikan sebagai upaya membangun brand atau merek guna memasarkan kota tersebut. City branding merupakan salah satu kunci keberhasilan dari suatu kota untuk bisa maju dan bersaing dengan kota-kota lain. Kota-kota sekarang ini memang saling bersaing untuk merebut pasar, baik pasar wisata ataupun investasi.
Kita lihat saja Hong Kong. Dengan city branding yang kuat “Hong Kong Asia’s World City”, kota tersebut menjadi pilihan banyak perusahaan internasional untuk membuka kantor perwakilan di sana. Hong Kong berhasil menjadi pusat bisnis penting di dunia. Slogan “Asia’s World City” menjiwai ruh kota dengan infrastruktur perkotaan yang amat canggih dan modern. Benar-benar kelas dunia.
Kota-kota di Indonesia yang dianggap berhasil membangun city branding di antaranya ialah Jogja dengan “Never Ending Asia” dan Solo dengan “The Spirit of Java”. Jogja, misalnya, memikat para wisatawan domestik maupun mancanegara dengan menyajikan tempat-tempat wisata yang lekat dengan sejarah dan kebudayaan.
Begitu pula dengan Solo, belakangan ini. Melalui brand “The Spirit of Java”, Solo ingin menghadirkan budaya Jawa sebagai bagian dari jiwa kota. Apabila kita berkunjung ke Solo, melalui semangat dari brand tersebut, Solo ingin pengunjung merasakan semangat dan sensasi orang Jawa di sana. Alhasil, saat ini Solo menjadi pilihan beragam event internasional di tanah air.
Tidak Main-Main
Menjelang pilkada di beberapa daerah di Sulsel, terkhusus Kota Makassar, marak lagi kandidat yang mengusung slogan-slogan politik sebagai andalan. Sayangnya, slogan politik tersebut, beberapa di antaranya, entah sadar atau tidak, menyinggung tentang city branding. Muncul kesan, bila kandidat tersebut terpilih, maka city branding itu yang akan digunakan ke depan.
Perilaku politik demikian sesungguhnya mengacaukan pembangunan kota berkelanjutan. Sebuah kota semestinya mempunyai visi jangka panjang, tak mengenal periode pergantian kepemimpinan. City branding adalah cita-cita jangka panjang, yang tidak harus berganti bila pemimpinnya berganti. Membangun sebuah merek kota untuk dipasarkan ke dunia butuh waktu yang tidak sedikit, mungkin lintas batas periode kepemimpinan.
Setelah slogan “Makassar Kota Dunia” yang narsis itu, beberapa kandidat walikota Makassar kini memunculkan slogan baru, sebut saja satu: “Makassar The Home of Asia.”
Konsep city branding semestinya tidak dipahami sebagai keinginan atau jargon para kandidat semata. City branding memerlukan kajian serius, “tidak main-main”, dan menjadi keinginan masyarakat secara bersama. Tidak diasosiasikan oleh orang-orang tertentu.
Sudah waktunya, pemerintah daerah, Makassar dan kabupaten-kabupaten lain di Sulawesi Selatan memiliki city branding yang kuat guna memasarkan daerahnya masing-masing. Hemat saya, slogan atau motto tiap-tiap daerah yang selama ini terpajang di gapura selamat datang, perlu dikaji ulang secara serius. Apakah memang masih layak dipertahankan, ataukah perlu mencari slogan yang lebih ‘menjual’.
City branding bukan hanya berbicara mengenai slogan. City branding adalah jiwa dan falsafah pembangunan dari suatu kota atau daerah. Dengan demikian, kita berharap daerah-daerah di Sulawesi Selatan menjadi tempat tujuan wisata, investasi, hunian, ataupun penyelenggaraan event yang terkenal di masa mendatang.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar