Sabtu, 16 Juni 2012

Membaca “Tragedi Puisi di Atas Panggung”: Refleksi kritis atas budaya literasi Kabupaten Pinrang[1]

Fitrawan Umar[2]

 
PENULISAN buku oleh pelajar bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia. Telah berpuluh-puluh judul bukuterutama didominasi buku fiksi semacam cerpen dan novelditulis oleh kaum pelajar yang masih berusia belasan tahun ke bawah. Jangankan pelajar SMA, beberapa tahun terakhir, buku-buku karya penulis cilik yang duduk di bangku SD sudah banyak bermunculan. Penerbit Mizan banyak berperan dalam memunculkan karya penulis cilik ini dengan membentuk lini penerbitan khusus yang disebut “Kecil-Kecil Punya Karya”. Sekarang ini, bahkan, menjadi tren penulis-penulis cilik berlomba memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MuRI) sebagai penulis termuda di Indonesia. (Kalau tidak salah, penulis termuda berdasarkan MuRI saat ini berusia 8 tahun)
Akan tetapi, kehadiran buku “Tragedi Puisi di Atas Panggung” karya pelajar-pelajar SMAN 1 Pinrang punya keistimewaan sendiri. Bukan karena alasan ‘ditulis oleh pelajar’, melainkan karena ‘ditulis oleh pelajar Pinrang!’

Pinrang masih relatif sepi dari dunia literasi yang sudah sangat berkembang belakangan ini. Bila ditanya siapa penulis (sastrawan) dari Bumi Lasinrang, nyaris kita tidak bisa menyebut siapa-siapa. Mungkin memang ada, namun sulit kita kenali karena tidak begitu menonjol dan tidak terekspos di media. Kalaupun ada, bisa dipastikan penulis itu mendapat pencerahan literasi di luar Kabupaten Pinrang (misalnya yang memilih kuliah di Makassar).
Menurut saya, ada beberapa hal yang membuat tradisi literasi di Pinrang masih berada di alam sunyi. Pertama, toko buku di Pinrang masih jarang. Itu pun, toko buku yang ada tidak memiliki koleksi buku yang banyak sehingga kurang menarik para pembeli. Kedua, perpustakaan baik dikelola pemda maupun sekolahjuga sama nasibnya dengan toko buku: minim koleksi, dan kurang menarik. Ketiga, kesadaran membaca masyarakat tidak tumbuh dengan baik karena kurang dikampanyekan oleh pemerintah maupun pendidik.
Tiga sebab di atas masih berbicara tentang hal-hal di kawasan kota Pinrang (Sawitto dan sekitarnya). Problem di kecamatan-kecamatan sampai desa-desa tentu saja jauh lebih kompleks. Masyarakat pedesaan malah tumbuh budaya menonton yang sangat akut. Problem ini sudah masuk faktor ekonomi, dan lain-lain.
Di Jalan Menuju Kemajuan
BILA menganalisis karya “Tragedi Puisi di Atas Panggung”, kita bisa menarik kesimpulan bahwa tradisi lileter di Pinrang sebenarnya telah berada di jalan menuju kemajuan. Sederhana saja, mari kita mengenali satu-satu para penulis melalui biodatanya. Nah, ternyata mereka semua adalah bibit penulis di Kabupaten Pinrang yang penting dan mendesak untuk sama-sama kita rawat dan pupuk, agar tumbuh harum-mewangi di kemudian masa.
Hampir semua penulis telah pernah mewakili sekolah dalam lomba-lomba kepenulisan, mulai regional hingga tingkat nasional. Satu di antaranya pernah menjadi pemenang ketiga dalam lomba menulis cerpen Anjangsana Sastra di Jakarta.
Yang menarik adalah beberapa di antara mereka yang terang-terangan ingin menjadi penulis handal di masa mendatang. Ada pula yang bercita-cita jadi dokter ataupun pengacara yang sekaligus juga seorang penulis. Dahsyat!
Selain itu, rupanya kekhawatiran saya tentang toko buku di Pinrang sedikit terjawab dalam biodata penulis dan beberapa karya yang muncul. Toko buku di Pinrang memang sepi, namun para pelajar yang benar-benar gemar membaca memanfaatkan jasa penjualan toko buku online untuk mendapatkan buku-buku favorit mereka. Dari pengamatan saya, banyak pula yang memaksakan diri ke Makassar demi memperoleh buku yang hendak mereka baca.
Sebut saja misalnya Kucing Senja yang dalam biodatanya mengaku mengagumi karya Avianti Armand. Pengakuan ini merupakan sebuah kegembiraan. Avianti Armand adalah salah satu sastrawan penting di tanah air sekarang ini. Tulisan-tulisan Avianti Armand, menurut saya, bukan-lah tipe pujaan para remaja. Oleh karena itu, bila seorang remaja mengagumi karya Avianti Armand, maka itu pertanda ia telah ‘lebih’ dari pada yang lain. Begitu pula Muhammad Agfian yang mengaku suka dengan  buku Sherlock Holmes.

Tumbuh dan Berproses
ADA beberapa cerpen dalam “Tragedi Puisi di Atas Panggung” yang berbicara tentang kisah nyata. Lucunya, kisah nyata yang diangkat ialah peristiwa sebelum akhirnya para penulis berhasil merampungkan buku yang kita bicarakan ini.
Uraian paling nyata bisa dibaca di cerpen “ψάχνει για το ταλέντο (mencari bakat)” karya Muhammad Agfian.
“Malam, atau sudah pagi kawan. Bintang tak kelihatan, inspirasiku  ditutupi awan. Bulan, tak nampak, ditutupi awan juga. Matahari baru tiba tiga jam lagi. Tak ada kecerahan.
Bercangkir-cangkir kopi aku telah minum, kenyang rasanya. Zat-zat kopi telah mengusir ngantuk di sel-sel otakku. Tapi, gigiku coklat, kawan.
Godaan berbaring sejenak, menutup mata, merasakan sejuknya dan tidur masih mencoba mendekat. Ah, aku telah membuang peluang untuk hal yang nikmat itu. Mataku memerah rasanya gara-gara obsesiku jadi penulis
Mengetik, mengetik. Menghapus, menghapus. Kertas terisi, kertas kosong. Putih bersih. Kutengok jam, aku menyerah. Sudahlah. Sudah berakhir angka nominal itu. Aku hanya kurang beruntung.  Kasur memanggil, kutub magnetnya kuat. Aku tertarik hingga berbaring. Terlelap pulas sepuas-puasnya.”
(ψάχνει για το ταλέντο, Muhammad Agfian)

Dari sini kita lihat, menyusun buku “Tragedi Puisi di Atas Panggung” tidak semudah yang kita bayangkan. Para pelajar ini benar-benar memeras keringat untuk menyelesaikan naskahnya.
Atau, mari kita melihat lagi bagaimana sebagian penulis menemukan semangatnya dalam menulis naskah buku “Tragedi Puisi di Atas Panggung” ini.
“Ah, si X adalah Jono, ucapku di dalam hati. Ya, secara tiba-tiba ketika sesi tanya jawab, tiba-tiba moderator memersilahkan Jono tampil ke depan. Pemuda X itu kemudian berdiri. Dia dituntun dua orang di sampingnya menuju panggung. Aku heran.
“Aku adalah seorang tunanetra,” ucapnya santai
Ha!? tunanetra? Mana mungkin seorang tunanetra bisa menulis, apalagi tulisannya sampai dimuat. Mister X terus berbicara mengisahkan hidupnya. Semuanya kudengar dengan seksama. Si mister Y, Jappareng,  juga begitu ketika dipanggil tampil. Pundaknya naik turun, mata hitamnya tidak fokus. Bola matanya seperti mau keluar, namun cara berbicaranya jelas. Ia bahkan telah menulis beberapa cerpen dan tulisan-tulisan lainnya yang telah dimuat di media.” (Rasionalismeku, Nur Fitriah Muhlis)
Kisah ini menggambarkan situasi pada saat Training of Writing and Recruitment Forum Lingkar Pena Sulawesi Selatan di Pucak, Kabupaten Maros, desember lalu. Sebagian penulis buku “Tragedi Puisi di Atas Panggung” ini adalah alumni dari pelatihan menulis tersebut. Beruntung semangat mereka masih sangat terjaga hingga mampu bertahan untuk tetap menulis sepulangnya di sekolah.

Sekilas tentang Karya
TERUS terang saya paling suka Cerpen “Re” karya Kucing Senja. Ia mampu menangkap hal-hal yang selama ini nyaris luput dari perhatian kita. Cerpen “Re” mengangkat tokoh cerita seorang penderita bibir sumbing. Kucing Senja menggambarkan tokoh bibir sumbing dengan amat baik, mulai istilah-istilah teknis, sampai pada dialog-dialog seorang penderita bibir sumbing. Melalui teknik penceritaan yang kreatif, cerpen ini membuat hati pembaca terpikat, dan tiada kesan menggurui.    
“Kadang, kau benci kenapa tidak sejak awal, kenapa tidak lebih cepat? Apa yang membuat orang tuamu menunda operasi? Semua itu bisa merubah semuanya, semuanya! Mungkin.
“Kngengapa nghahus ngaya?” (Kenapa harus saya?) tanyamu mengambang. Pandanganmu menerawang. Anganmu melayang.”
(Cerpen “Re”, karya Kucing Senja)
Selain “Re”, dalam buku “Tragedi Puisi di Atas Panggung”, terdapat dua tulisan lain Kucing Senja, “Pura Talla” dan “Litternila Soituwing”, yang menurut saya sudah sangat baik dan maju bagi penulis seusianya.
Selanjutnya, yang cukup membuat saya salut ialah cerpen “Senyum Rahasia” karya Wahyuni. Dari karya itu, dapat terlihat betapa Wahyuni punya bahan bacaan yang banyak sebelum menulis. Saya sendiri tidak habis pikir, dari mana seorang remaja Pinrang mengenal istilah-istilah dari cerpen “Senyum Rahasia” itu?
“Kulangkahkan kaki pelan menuju kamar mama yang letaknya berseberangan dengan kamar kosong tempat mama dan kelinci-kelincinya sering menghabiskan waktu bersama. Mataku nakal mengintip mama yang tengah dikerumuni tissu juga beberapa botol irish whisky  yang berserakan di lantai…
Kali ini gilliran bloody Marry, vodkatini dan smirnoff Vodka yang mengerumuni Mama. Aku mulai menghafal setiap jenis minuman yang sering diteguk Mama meski masih bingung dari mana ia mendapatkan minuman-minuman mahal seperti itu.”
(Cerpen “Senyum Rahasia”, karya Wahyuni)
Kalimat berikut ini cukup menjadi bukti, Wahyuni memang punya tradisi membaca yang baik.
“Rasanya aku seketika menjelma seperti David  dalam bukunya A Child Called It, The Lost Boy dan yang terakhir A Man Named David mengisahkan tentang perjalanannya mencari cinta sebuah keluarga.” (Cerpen “Senyum Rahasia”, karya Wahyuni)
Sayangnya, ending “Senyum Rahasia” cukup mengecewakan. Wahyuni tidak berhasil menemukan penutup cerita yang baik. Memilih menjadikan tokoh ‘aku’ sebagai seorang penderita AIDS adalah cukup fatal menurut saya. Entah benar atau tidak, setahu saya, sistem kekebalan tubuh penderita AIDS sangat lemah sehingga mengamputasi kaki karena kecelakaan hebat bagi penderita AIDS adalah di luar kewajaran logika.
Selain cerpen Kucing Senja dan Wahyuni, cerpen-cerpen lainnya tidak terlalu mengejutkan bagi saya. Biasa-biasa saja. Namun, tentu saja tidak berarti cerpen-cerpen tersebut ‘jelek’. Sebagai penulis pemula, di usia yang muda, karya-karya mereka sudah lebih dari cukup. Hanya, mungkin memang masih perlu terus dibina dan didorong untuk memperluas bacaan. Sebab, dari bacaan-lah sesungguhnya tulisan-tulisan yang kita hasilkan bisa menemukan soul­-nya.

Penutup
SEKALI lagi, terbitnya buku “Tragedi Puisi di Atas Panggung” ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Semua pihak patut mengapresiasi buku ini sebagai bentuk dukungan atas kemajuan budaya literasi di Kab.Pinrang.  Tanpa budaya literasi yang kuat, agak sulit kita mengharapkan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Bumi Lasinrang ini.

Makassar-Pinrang, Juni 2012


[1] Dibawakan di acara Bedah Buku “Tragedi Puisi di Atas Panggung”, 16 Juni 2012 di Gedung Andi Makkullau Pinrang.
[2] Fitrawan Umar, lahir di Pinrang, Sulawesi Selatan, 27 Desember 1989. Finalis Sayembara Cerpen Se-Sulselbar FBS UNM (2011). Pemenang Ketiga Lomba Cipta Cerpen Kementrian Pemuda dan Olahraga (2010). Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Harian FAJAR, Tribun-Timur, Parepos, Identitas, dll. Tahun 2011 menerbitkan buku “Catatan Mahasiswa Biasa” (Penerbit Shofia). Bisa dihubungi lewat email fitrawan.umar@gmail.com

3 komentar:

  1. Luar biasa ya adik-adik kita...
    Bimbing mereka untuk lebih giat lagi belajar menulis biar bisa menerbitkan buku yang penuh inspirasi dan motivasi seperti karya para penulis nasional.

    SEMANGAT!!!

    Samsir "D7ways of life"

    BalasHapus
  2. Terima kasih banyak reviewnya, Kak. Salam.

    BalasHapus