Sabtu, 30 Juni 2012

Sepotong Cokelat yang Pahit dan Manis, juga Lumer[1]


Sebuah Tinjauan dan Perbandingan
Pembedah: Hamran Sunu[2] 



Sastra pertama-tama hadir untuk menghibur.
Kemudian dikritisi
(YB Mangunwijaya)[3]

Kamis, 28 Juni 2012

Tentang Mata yang Paling Indah di Kampung Lilin


: Fitrawan
(Dimuat di Harian FAJAR Edisi Minggu, 24 Juni 2012) 

Adalah sebab tugas akhir penelitian Arga ke sini. Lagi pula, selama bertahun-tahun hidup di Pinrang sampai kuliah di Makassar, belum pernah sekalipun ia berkunjung ke daerah ini -padahal Bapak Presiden dari Jakarta pernah datang bertamu!
Di sini, Arga dibantu oleh kehadiranmu. Kamu mengantarnya ke sana-ke mari. Bertandang dari satu rumah ke rumah lain. Menunjukkannya jalan menuju hutan, membaca angin, menghitung bintang, dan segala rupa.

Selasa, 26 Juni 2012

Pilkada dan City Branding


 : Fitrawan Umar
(Dimuat di Harian FAJAR, Kamis 21 Juni 2012)

Hal menarik yang tak pernah luput dari perhatian saya bila melintasi gerbang utama tiap kabupaten dalam perjalanan Pinrang ke Makassar, atau kabupaten apa saja di Sulsel, ialah slogan tiap-tiap kabupaten. Sebut saja Pinrang Berseri, Parepare Bersahaja, Barru Hibrida, Maros Baik, dan lain-lain.
Tapi, itu dulu. Slogan-slogan yang pernah jaya, kini nyaris lenyap dari ingatan publik. Bukan hanya karena ketidakpahaman pemerintah daerah tentang pentingnya slogan sehingga tak lagi dipopulerkan, melainkan juga dipengaruhi oleh munculnya mekanisme sosial yang dikenal dengan pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Sabtu, 16 Juni 2012

Membaca “Tragedi Puisi di Atas Panggung”: Refleksi kritis atas budaya literasi Kabupaten Pinrang[1]

Fitrawan Umar[2]

 
PENULISAN buku oleh pelajar bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia. Telah berpuluh-puluh judul bukuterutama didominasi buku fiksi semacam cerpen dan novelditulis oleh kaum pelajar yang masih berusia belasan tahun ke bawah. Jangankan pelajar SMA, beberapa tahun terakhir, buku-buku karya penulis cilik yang duduk di bangku SD sudah banyak bermunculan. Penerbit Mizan banyak berperan dalam memunculkan karya penulis cilik ini dengan membentuk lini penerbitan khusus yang disebut “Kecil-Kecil Punya Karya”. Sekarang ini, bahkan, menjadi tren penulis-penulis cilik berlomba memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MuRI) sebagai penulis termuda di Indonesia. (Kalau tidak salah, penulis termuda berdasarkan MuRI saat ini berusia 8 tahun)
Akan tetapi, kehadiran buku “Tragedi Puisi di Atas Panggung” karya pelajar-pelajar SMAN 1 Pinrang punya keistimewaan sendiri. Bukan karena alasan ‘ditulis oleh pelajar’, melainkan karena ‘ditulis oleh pelajar Pinrang!’

Rabu, 13 Juni 2012

Ke-Ibu-an


Soemarno Soedarsono menulis kisah ini di buku “Karakter, Mengantar Bangsa dari Gelap Menuju Terang”
Seorang anak kecil pernah meminta ibunya untuk memandikannya.
“Aku ingin dimandikan, Ibu.”
“Ibu mau kerja. Ibu sudah telat ini…”
“Sebentar saja, Bu.” Rengek si anak.
Dengan nada kesal, sang ibu menghardik, "Ibu berangkat kerja!" Kemudian berlalu meninggalkan si anak yang merengek-rengek minta dimandikan.
Beberapa waktu sesampai di kantor, sang ibu mendapat telepon dari pembantu yang selama ini mengasuh anaknya.
Si anak meninggal dunia.
Betapa dalam penyesalan sang ibu. Betapa sedih. Meruah air matanya. Si anak kemudian dimandikan oleh ibunya untuk terakhir kali –sebelum diberangkatkan menuju pemakaman.

Selasa, 05 Juni 2012

Tata Kota dan Ikhtiar Penyelamatan Lingkungan


: Fitrawan Umar


Krisis lingkungan hidup telah menjadi ancaman serius bagi seluruh penghuni bumi. Perubahan iklim yang tidak terkendali membentuk sebuah kecemasan global, di mana suatu saat nanti bumi dan alam raya tidak akan berpihak kepada manusia. Bencana atau marabahaya akan datang menimpa bila manusia mengabaikan keberadaan lingkungan hidup sebagai elemen yang mesti diperhatikan dalam konteks pembangunan.
Kesadaran bersama tentang hal itu pertama kali menyeruak pada tahun 1972, di mana PBB menghelat Konferensi tentang Lingkungan Hidup di Stokholm. Pertemuan tersebut melahirkan banyak pemikiran untuk menyelamatkan bumi yang dianggap tengah berjalan menuju kehancuran. Hari pembukaan konferensi ini akhirnya ditetapkan dan diperingati setiap tahun sebagai Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia, yakni setiap tanggal 5 Juni.

Sudahkah Kita Peduli Lingkungan?



:Fitrawan Umar


Benarlah apa yang pernah diucap Mahatma Gandhi, bahwa dunia ini mampu menampung semua kebutuhan manusia. Tetapi tidak akan sanggup memenuhi keinginan atau nafsu manusia. Beragam polemik umat manusia dewasa ini, tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh keserakahan nafsu manusia.
Nafsu politik menjadikan manusia akan bertindak apa saja dalam merebut kekuasaan, lalu kemudian menjadi rezim otoriter demi mempertahankan kekuasaan. Nafsu ekonomi membuat manusia menghalalkan segala cara, dari mencuri, korupsi, penipuan, sampai menggerus kekayaan alam seperti menghabisi hutan, demi memperoleh uang.