Kamis, 03 Mei 2012

Menziarahi Ki Hajar Dewantara


Andai Aku Seorang Belanda

Adalah tulisan Ki Hajar Dewantara di Tahun 1913 saat merespon persiapan perayaan seratus tahun kemerdekaan Belanda. Ki Hajar menggugat pemerintahan Belanda yang menarik uang dari rakyat jajahannya untuk pesta perayaan itu. Betapa ketidakadilan dicium Ki Hajar. Belanda berpesta atas kemerdekaannya lepas dari Perancis, sementara di saat bersamaan mereka sedang menjajah negara lain.



"Ide untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu!" (Ki Hajar Dewantara)
Atas tulisan itu, Gubernur Jenderal Idenburg membuang Ki Hajar di Pulau Bangka. Pembuangan, pengasingan, pengusiran memang adalah konsekuensi  dari sebuah perjuangan. Ki Hajar melewati lorong-lorong sunyi itu. Kata Ibnu Taimiyah, penjara merupakan saat menyepi, pembuangan merupakan rekreasi, bagi pejuang-pejuang sejati

Perguruan Nasional Tamansiswa
Beruntunglah, permintaan Ki Hajar untuk lebih memilih diasingkan ke Belanda dikabulkan. Negeri Belanda menjadi semacam Kawah Candradimuka bagi Ki Hajar bersama rekan-rekan pengasingan lain. Mereka memanfaatkan betul kesempatan untuk 'mencuri' ilmu sebanyak-banyaknya. Mengumpulkan kekuatan pikiran dan ilmu pengetahuan.
Hingga pada waktunya, Tahun 1918, Ki Hajar kembali ke tanah air. Tercurahlah segala perhatiannya untuk memajukan pendidikan negara tercinta. Tahun 1922, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa). Perguruan ini menitikberatkan pendidikan kebangsaan peserta didik agar terbuka kesadarannya melihat realita bangsa.
Dari sini pula, Ki Hajar meletakkan gagasan-gagasan dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Tut Wuri Handayani
Adalah gagasan filosofis Ki Hajar yang sampai detik ini masih diterapkan dalam pendidikan nasional. Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang berprakarsa), dan ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan).
Tidak hanya dalam dunia pendidikan, dalam konteks kepemimpinan nasional, gagasan itu masih menemukan relevansinya.

Melepas Keradenan
Raden Mas Suwardi Suryaningrat sesungguhnya adalah nama asli Ki Hajar. Lahir 2 Mei 1889 di lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Demi bebas dekat dengan rakyat, ia tidak menggunakan nama keradenan itu. Selanjutnya, ia lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara.

Kepada Ki Hajar, semoga berkekalanlah engkau di Syurga kelak. Amin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar