Senin, 23 April 2012

Setapak Langkah

Sebelum ke Bantimurung, berkunjunglah sejenak ke Taman Leang-Leang. Di sana, sebuah taman dengan gua bersejarah. Gua jejak peradaban manusia. Pada tebing gua, akan kau temui telapak tangan manusia ribuan tahun yang lalu. Di mulut gua, akan kau jumpai kerang-kerang sisa makanan purba.

Tidak banyak yang berkunjung ke Taman Leang-Leang ini. Para wisatawan yang datang ke Maros biasanya bergegas menuju Bantimurung. Tak sabar menikmati air mancur, menghirup udara segar-segar, berteduh di rindang pepohonan, ataukah menjenguk kupu-kupu di sarang pelestarian.


Taman Leang-Leang tidak menyajikan ‘apa-apa’ selain gua-gua dengan jejak-jejak peninggalan manusia di dalamnya. Meski sebetulnya pemandangan batu cadas di lapang rumput di sekitaran gua cukup memesona, tapi itu tak seberapa di banding spot-spot tempat wisatawan mengabadikan foto di Bantimurung.

Namun, sesungguhnya, Taman Leang-Leang itu amat mahal harganya buat kita yang hidup sekarang ini. Dari sana, kita akan menemukan satu pelajaran hidup. Bahwa kehidupan terus berputar, dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi.

Yang menimbulkan pertanyaan selalu adalah usia berapakah kehidupan manusia sekarang? Apakah teori-teori perjalanan kehidupan manusia benar adanya? Apakah manusia di era kenabian masuk dalam golongan orang yang hidup dalam suasana kepurbaan? Nabi Adam as, Nabi Idris as, sejak hadir ke bumi sampai masa global warming, sudah berapa lama jeda waktunya?

Sayangnya, sejarah tidak mencatat banyak kehidupan nenek-nenek moyang, selain dalam kitab-kitab suci, dan toh hanya bercerita seputar wilayah Timur Tengah sana. Tapi bukankah dulu benua-benua di Bumi itu satu?  Sehingga ketika Tuhan mengisyaratkan suatu wilayah, maka sebetulnya yang dimaksud ialah orang-orang se-Bumi? Maka wajar saja jika kita tidak menuntut mengapa Tuhan tidak menceritakan nabi-nabi, konon berjumlah ratusan ribu, yang bisa saja pernah ada di Kajang, di Luwu, Amerika, dan lain sebagainya. Ya, secara tidak langsung kita sadar, di masa nabi-nabi terdahulu, Bumi masih memiliki satu benua. Eh, tapi sejak kapan benua terpisah-pisah seperti sekarang? Apa tidak salah jika dikatakan sejak banjir bandang Nabi Nuh as?

Saya ingat, ternyata selain kitab-kitab suci, juga ada mitologi tentang kehidupan masa lampau di beberapa wilayah. Semisal mitologi Yunani, dan mitologi bugis La Galigo. Tapi kita juga sulit menemukan kesimpulan bahwa kehidupan manusia-manusia awal di muka bumi, sebagaimana mitologi tersebut, sepurba yang pernah kita dengar.
**
Kehidupan memang terlalu amat sulit dimengerti. Di Taman Leang-Leang, dulu sekali adalah tepian laut. Terbukti kita jumpai kerang-kerang sisa makanan manusia-manusia terdahulu di mulut gua. Sekarang, Taman Leang-Leang dikelilingi oleh bukit-bukit cadas yang pula melintasi Bantimurung. Setelah melalui serangkaian peristiwa alam, beribu tahun, laut tempat manusia dekat dengan kehidupan, kini menjadi daratan dan bahkan memunculkan bukit-bukit tinggi.

Namun, sadarkah kita, di belahan bumi lain, ada daratan yang tenggelam akibat laut dari Taman Leang-Leang tadi. Setelah melalui serangkaian peristiwa alam pula, daratan-daratan pada masa lampau, kini telah berubah menjadi lautan. Bila di suatu tempat terjadi abrasi, di suatu tempat lain wilayah darat akan meluas. 

Begitulah. Alam, kehidupan, dan semesta raya, tiada berhenti berdenyut, bergerak menuju titik keseimbangan. Silih berganti, waktu menjadi saksi perjalanan hidup kita di muka bumi ini.
**
Jika di sepasang bibir ada
tawa yang sedang pecah
di sepasang bibir lain tiada
tawa yang merekah
(Hukum Kekekalan Tawa, Aan Mansyur)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar