Rabu, 25 April 2012

Sang Jurnalis: Sang Mata Pena yang Tajam[1]


Tugas mahasiswa itu
membaca, menulis, mendaki, dan
sekali-kali melawan pemerintah
(Soe Hok Gie)



Prolog           
MEMBICARAKAN ketajaman pena Sang Jurnalis, kita akan selalu ingat perkataan Napoleon Bonaparte[3]: “Saya lebih memilih menghadapi tiga batalyon tentara musuh ketimbang harus meladeni seorang jurnalis.” Mungkin kita semua masih ingat sejarah, siapa Napoleon Bonaparte. Ya, Napoleon merupakan Panglima Perang tersohor yang pernah dimiliki Perancis, dan diberi gelar Sang Penakluk Eropa. Lebih lanjut, ia katakan: “Andai saya membiarkan jurnalis bebas berkeliaran melakukan apa saja yang harus mereka lakukan, maka bisa dipastikan dalam waktu tak lebih dari tiga bulan saya akan terpental dari kedudukan saya.” Tentu bisa kita bayangkan betapa dahsyatnya pena Sang Jurnalis, sehingga panglima perang yang gagah berani pun mengaku tak sanggup menghadapinya.

Pers, Jurnalis, dan Perubahan
Pers, menurut UU No.40 Tahun 1999 Tentang Pers, adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Sedangkan, jurnalis merupakan orang yang melaksanakan aktivitas jurnalistik dalam pers tersebut.
Untuk menelusuri ketajaman pena seorang jurnalis (atau sebut saja peranan jurnalis dalam perubahan) dapat dilihat melalui UU Tentang Pers tadi yang menyatakan bahwa pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut: memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan, mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar, melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Studi Kasus: Era Pergerakan Nasional[4]
Pada setiap fase perjalanan bangsa ini, para jurnalis memberi andil yang sangat besar. Pada masa perjuangan pergerakan nasional, tokoh-tokoh dan organisasi pergerakan menggunakan pers sebagai alat bantu dalam mewujudkan cita-cita perjuangan menuju Indonesia Merdeka.
Soekarno dalam ulang tahun koran “Sipatahoenan” Tahun 1933, mengatakan bahwa tiada perjuangan kemerdekaan secara modern yang tidak memakai penyuluhan, propoganda, dan agitasi dengan pers. Begitu pula Muhammad Hatta, pernah berkata sewaktu membina Koran Daulat Rakjat: “Memang majalah gunanya untuk pengetahuan, menambah pengertian dan menambah keinsyafan. Dan bertambah insyaf kaum pergerakan akan kewajiban dan makna bergerak, bertambah tahu kita mencari jalan bergerak. Sebab itu majalah menjadi pemimpin pada tempatnya. Dan anggota-anggota pergerakan yang mau memenuhi kewajibannya dalam perjuangan tidak dapat terpisah dari majalahnya.
Menurut Syamsul Basri (1987) dalam Buku Pemasyarakatan Pers Nasional sebagai Pers Pancasila, peranan pers dalam era pergerakan nasional adalah sebagai berikut:
1.    Menyadarkan masyarakat bahwa kemerdekaan adalah hak yang harus diperjuangkan
2.    Membangkitkan dan mengembangkan rasa percaya diri, sebagai syarat utama memperoleh kemerdekaan
3.    Membangkitkan dan mengembangkan rasa persatuan
4.    Membuka mata Bangsa Indonesia terhadap politik dan praktek kolonial Belanda

Kekuatan Pers
Reni Panuju (2008) mengatakan, pers memiliki kekuatan mengajak pembaca dalam gerakan-gerakan sosial tertentu (social movements), seperti gerakan ekonomi, politik, lingkungan hidup, pendidikan, ataupun perilaku positif lainnya.
Kekuatan pers diantaranya ialah, pertama, mampu membentuk opini publik. Karena dikatakan sebagai penyampai informasi, maka pers mampu meyakinkan pembaca atau penikmatnya untuk meyakini informasi yang dibawa oleh pers. Selain itu, pers bersifat meluas, sehingga gagasan, ide, atau opini dapat sampai dalam waktu cepat ke masyarakat luas. 
Kedua, pers mampu menggerakkan massa. Sekait dengan pembentukan opini publik, apabila wacana yang dibawa pers dianggap berkaitan dengan masyarakat, maka masyarakat akan tergerak untuk terlibat dalam wacana-wacana tersebut. Dalam hal ini, muncul reaksi dikarenakan oleh pemberitaan pers. Seperti saat kasus Cicak Vs Buaya, di mana telah terbentuk opini publik bahwa KPK sedang dikriminalisasi oleh Polri, sehingga mendorong masyarakat untuk melakukan aksi dukungan terhadap KPK.
Ketiga, pers mengungkap hal-hal yang tidak diketahui oleh publik. Kekuatan ketiga inilah yang paling ditakuti oleh pemimpin yang sedang berkuasa. Pers mampu menjadi mata dan telinga masyarakat untuk mengetahui aib atau kejahatan dari para pemimpin.  Seperti pada tumbangnya kekuasaan Presiden Filipina, Estrada, oleh karena pers memberitakan korupsi dan gaya hidupnya yang suka berjudi dan berfoya-foya.

Perselingkuhan Pers
Sengaja penulis menyinggung perselingkuhan pers ini. Mengingat kekuatan pers sebagaimana tersebut di atas, di era keterbukaan informasi seperti sekarang, telah muncul ragam penyimpangan dengan memanfaatkan kekuatan pers untuk kepentingan golongan atau oknum tertentu. Hal demikian harus kita lawan dengan melakukan pencerdasan media kepada masyarakat.
Pers, pada beberapa kasus, telah terkurung oleh kepentingan bisnis dan politik, yang dilakukan oleh sang pemilik media atau yang memiliki afiliasi terhadap media tersebut.
Pers yang terkontaminasi oleh anasir bisnis dan politik, hanya akan dijadikan alat untuk memuluskan agenda-agenda bisnis dan tujuan-tujuan politik. Di masa kini, pers dimanfaatkan untuk reproduksi citra orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu. Pers pula dijadikan alat untuk menyerang dan menjatuhkan lawan-lawan politik.
Contoh paling kentara ketika pertarungan pemilihan ketua salah satu partai politik terbesar di Indonesia pada Tahun 2009. Dua tokoh yang bersaing, masing-masing menggunakan kendaraan media untuk tampil sebagai sosok yang dirindukan. Masing-masing menjadikan media sebagai senjata untuk melumpuhkan rival politiknya. Sehingga apa yang tampak dari media adalah perwajahan dari kepentingan masing-masing tokoh. Seperti pada tanggal 25 September 2009[5], dimana dua stasiun televisi nasional menayangkan tema sama, yakni lumpur di Sidoarjo. Kedua media besar tersebut, yang notabene dipegang oleh kandidat calon ketua partai, menyajikan dua hal yang saling bertolak belakang. Satu mengungkap sisi keberhasilan PT.Lapindo dalam mempertanggungjawabkan ganti ruginya terhadap para korban, sedangkan yang satu membeberkan kisah-kisah sedih di balik penderitaan warga Porong akibat lumpur dan belum mendapatkan ganti rugi.

Membangkitkan Pers Mahasiswa
Hingga pada akhirnya nanti, perselingkuhan pers akan tampak berbahaya bila para pemilik media mulai memanfaatkan pemberitaan untuk menyesatkan pemikiran masyarakat. Contoh teranyar prihal isu kenaikan BBM, di mana stasiun TV tertentu, berupaya ‘mengkondisikan’ opini publik untuk menerima kenaikan BBM tersebut dengan alasan RASIONALISASI. Ini adalah bentuk penyesatan pola pikir masyarakat. Padahal kita semua tahu, stasiun TV tersebut dimiliki oleh keluarga Ketua Partai yang mendukung kenaikan BBM.
Oleh karena itu, pers mahasiswa harus bisa bangkit kembali sebagai media alternatif dalam rangka meluruskan pemahaman masyarakat, dan mahasiswa pada khususnya. Di masa orde baru, pers mahasiswa menjadi sarana efektif dalam menyebarluaskan gerakan sosial dan demokrasi, di mana ketika itu semua media dibungkam oleh penguasa –kecuali yang siap dibredel seperti Tempo, dll.
Kekuatan pers ditambah dengan pesona idealisme mahasiswa akan melahirkan suatu gelombang pencerahan di tengah runyamnya kehidupan sosial masyarakat. Pula akan menjadi benteng terakhir dalam menghadapi kediktatoran atau kezaliman penguasa. Wallahu’alam..




[1] Dibawakan dalam acara “Seminar Jurnalistik: Melirik Ketajaman Pena Sang Jurnalis” HIMATIKA FMIPA Unhas di Aula Prof.Amiruddin FK Unhas, Sabtu, 7 April 2012.
[2] Penulis kelahiran Pinrang, 27 Desember 1989. Saat ini menjadi Ketua Forum Lingkar Pena Sulsel 2010-2012. Pernah menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Majalah TriAs KAMMI Unhas, Kordinator Kajian Strategis Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Unhas, serta Staf Media dan Informasi Pusat Studi Demokrasi Unhas. Aktif menulis di media massa. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Identitas, Harian Cakrawala Makassar,Tribun-Timur, dan Harian FAJAR. Buku yang ditulisnya ketika mahasiswa yaitu “Catatan Mahasiswa Biasa” (Penerbit Shofia:2011).
[3] Tentang kata-kata Napoleon, terdapat beragam versi, salah satunya ialah pena lebih berbahaya daripada peluru.
[4] Studi kasus ini diambil dari referensi Sejarah Pers  dalam www.tuanguru.net
[5] Suko Widodo, Perselingkuhan Media-Politik. Opini Kendari Ekspress 30 September 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar