Kamis, 19 April 2012

Menunggu


Separuh hidup kita konon hanya untuk menunggu. Beberapa detik setelah keluar dari rahim Ibu, kita menunggu kapan Ibu mendekap dan menenangkan tangisan ketakutan kita menghadapi dunia. Di saat bersamaan pula, ada orang lain yang juga sedang menunggu. Menunggu kabar kelahiran kita, bagaimana keadaan Ibu, apakah kita lahir normal, berapa berat badan, dan lain sebagainya. Ibu, yang masih dalam keadaan letih, pasti juga sudah sangat menunggu bagaimana wajah buah hati yang ditungguinya selama sembilan bulan lamanya.


Kemudian hari akan berputar, dan tahun akan berganti. Tiba-tiba kita sekarang berada di ruang kelas, mengatur denyut jantung yang sedari tadi tidak mau berkompromi. Suasana tegang menyelimuti seluruh ruangan. Wajah semua teman kelas tampak sekali sedang mengharap-harap cemas. Kita sedang menunggu Wali Kelas menyudahi petuahnya. Kita menunggu pembagian rapor! Bagaimana nilaiku semester ini? Siapa yang ranking satu? Naik kelas-kah saya?

Bulan membesar, bulan mengecil. Purnama silih berganti. Tahun telah menjadi baru. Tanpa sadar malam ini kita tidak bisa tidur. Perasaan tidak tenang menghampiri. Kita menyesali kenapa tidak membeli koran kampus di jalanan tadi. Meski agak mahal, setidaknya kita sudah bisa tahu apakah harapan kita bisa terwujud. Kita sedang menunggu pengumuman SPMB! Luluskah kita? Pilihan pertama ataukah pilihan kedua? Teman saya bagaimana?

Matahari berpindah, ke Timur ke Barat. Tanpa terasa, kita akhirnya selesai kuliah empat tahun lamanya. Sekarang kita menunggu pembacaan nama-nama wisudawan/wati oleh Rektor kampus. Terbit bahagia saat nama kita disebut dengan tambahan gelar di belakangnya.

Seumpama sungai, kehidupan terus mengalir.

Lagi nunggu apa si cantik dan si tampan?

2 komentar:

  1. Lagi menunggu undangan makan selanjutnya. Undangan yg isix tdk cuma sandingan gelar ST, tapi nama seseorang.
    Hayo..
    Kapan yah?
    Mari menunggu..
    ^_^

    BalasHapus