Selasa, 10 April 2012

Mencari Jalan Gerakan (Pasca)mahasiswa

Transformasi gerakan dari aktivis ‘ekstra parlemen’ ke ‘intra parlemen’ sudah jamak dibicarakan. Kajian serius mengenai hal ini sudah pernah diulas dalam berbagai tulisan dan diskusi-diskusi pelataran. Namun, tentu saja masih memunculkan kontradiksi yang cukup tajam. Sebabnya ialah soal pertaruhan idealisme dan kejernihan gerakan.
Adalah wajar muncul keraguan dan kecurigaan kepada mantan aktivis ‘ekstra parlemen’ yang mencemplungkan dirinya ke ‘intra parlemen’. Pada beberapa literatur sejarah pergerakan, trauma demikian jelas adanya. Tak sedikit yang pada akhirnya dibungkam oleh harta dan kekuasaan. Tak sedikit yang berteman dengan dosa, yang dulu pernah menjadi musuh.

Akan tetapi, hemat saya, kecurigaan itu harusnya diletakkan secara proporsional. Kita terlalu fokus untuk mencurigai mantan aktivis, namun jarang membincangkan peran ‘pahlawan kesiangan’ atau ‘aktivis karbitan’ atau dalam Buku Ijtihad Membangun Basis Gerakan karya Amin Sudarsono, Alamsyah Saragih menyebutnya sebagai ‘anak-anak mami’, yang ‘besar’ di masyarakat hanya karena takdir genetik dan kelimpahan harta.
Bila diperhadapkan antara ‘mantan aktivis mahasiswa’ dengan ‘anak-anak mami’ tadi, kita akan dengan mudah melakukan penilaian terhadap baik-buruknya ‘aktivis ekstra parlemen’ yang cemplung ke ‘intra parlemen’.
Aktivis mahasiswa (pengurus himpunan, BEM atau Senat Mahasiswa –terutama para ketua di lembaga tersebut) adalah calon-calon pemimpin yang lahir dari proses yang terencana, tumbuh dari akar, dan terbentuk berdasarkan semangat regenerasi kepemimpinan bangsa. Kuncinya di sini: kepemimpinan.
Alur logikanya ialah, bila ingin melihat potensi kepemimpinan seseorang, telusurilah track record kepemimpinannya dari rahim kampus. Sebab, para pemimpin mahasiswa di kampus, tidak pernah lahir dengan bermodal harta dan keberuntungan genetik semata (berbeda dengan kepemimpinan politik di masyarakat yang bisa dibeli dengan uang dan modal dinasti politik turun temurun).
Nah, alangkah dramatisnya bila tokoh-tokoh pemimpin mahasiswa di kampus (pengurus himpunan, BEM atau Senat Mahasiswa –terutama para ketua di lembaga tersebut (sengaja saya mengulanginya)), lepas dari kampus justru dipimpin oleh ‘anak-anak mami’ yang selama hidup atau kuliahnya berleha-leha dan tidak aktif dalam dunia pergerakan yang mengharap perubahan di tengah masyarakat.
Kepemimpinan struktural di tengah masyarakat atau negara adalah jalur dan tugas kerja dunia politik. Politik adalah jalan menuju kepemimpinan struktural tadi (bisa dimulai melalui intra parlemen, menjadi anggota legislatif dll).
Kerja-kerja aktivis mahasiswa di kampus adalah kerja-kerja perubahan, dan kerja-kerja politik ekstra parlementer yang menitikberatkan pada agenda politik nilai. Maka, bukanlah suatu kemunduran bila perjuangan perubahan itu diteruskan ke ranah intra parlemen –setidak-tidaknya mencegah ‘anak-anak mami’ menjadi penguasa, yang notabene hanya akan melanggengkan status quo di masyarakat.
Seburuk-buruknya aktivis ‘ekstra parlemen’ yang ternodai dalam lingkaran ‘intra parlemen’, lebih buruk lagi ‘anak-anak mami’ yang bisa jadi tidak pernah mengerti tentang makna perubahan.
Politik memang bukan satu-satunya medan perjuangan pasca kampus bagi aktivis mahasiswa. Namun, kekuatan besar untuk melakukan perubahan di negeri ini adalah melalui lorong-lorong gelap politik. Dan, sekali lagi, politik adalah pintu menuju perebutan kepemimpinan di negeri ini yang sebagian besarnya dikuasai oleh ‘anak-anak mami’.
Niat untuk mengelola himpunan, BEM atau Senat Mahasiswa selama di kampus, mesti diperluas lagi bila telah ke luar sebagai alumni, yakni mengelola kabupaten, provinsi, bahkan negara sekalipun. Pemimpin itu harus lahir dari diskusi-diskusi kampus, keringat-keringat jalanan, air mata-air mata pengabdian, dan sujud-sujud pengorbanan.
Bila tidak ada orang yang berniat suci untuk mengelola negara ini dengan baik, maka meminjam istilah Syafii Maarif dalam salah satu tulisannya di Kompas, Biar negara hangus terbakar! Wallahu’alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar