Selasa, 17 April 2012

Akhlak Berkota


Nabi Muhammad SAW diutus ke muka bumi tidak lain hanya untuk menyempurnakan akhlak manusia. Penyempurnaan dari kejahiliyaan menuju berperadaban. Maka, segala sikap dan perbuatan umat Muhammad haruslah senantiasa senafas dengan akhlak peradaban sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits. Akhlak dalam Islam menempati kedudukan tersendiri. Nasruddin Razak (1971:45) menyebutkan bahwa inti ajaran Islam ialah mengadakan bimbingan bagi kehidupan mental dan jiwa manusia. Sebab, hakekat manusia sesungguhnya adalah terdapat pada mental dan jiwa tersebut. Mental dan jiwa inilah yang nantinya mewujud dalam bentuk perilaku menjalani hidup.
Pada kenyataannya, akhlak sering diabaikan oleh sebagian kita. Termasuk akhlak berkota, yang bahkan mungkin saja kita jarang mempelajarinya. Seperti tentang bagaimana umat manusia menjalani hidup sebagai warga kota, tentang bagaimana pergaulan masyarakat kota, tentang hak dan tanggung jawab sebagai subjek maupun objek perancangan kota, dan lain sebagainya.
Kota dalam disiplin ilmu pengetahuan, planologi, tidak sebatas sebuah teritori. Menurut Bambang Heryanto (2011: 275), kota adalah cerminan moral, etika, dan kebijakan dari pelaku pembentuk organisasi kota yang dirajut menuju pemeliharaan keamanan, kehidupan politik, budaya, ekonomi dan sosial masyarakat.
Bila diterjemahkan dalam bahasa agama, kota merupakan manifestasi dari akhlak manusia-manusia di dalamnya. Kegaduhan, kesemrawutan, atau ketidaknyamanan sebuah kota adalah cermin dari akhlak kehidupan warga kota.
Kita mungkin seringkali mengeluh tentang suasana hidup berkota. Betapa kota sudah teramat sesak, betapa kota sudah menimbulkan muak, dan sampai-sampai sebagian kita frustasi dan memilih hidup menjauhi kota.
Namun, tanpa disadari, sebetulnya segala bentuk kejengkelan kita terhadap kota, justru adalah datangnya dari kita sendiri sebagai manusia-manusia kota. Warga kota acap kali mengabaikan hal-hal yang berkaitan dengan prinsip hidup berkota. Ritual agama yang dijalani sehari-hari tidak ditunjukkan melalui keluhuran akhlak sebagai insan perkotaan.
Publik atau privat
Antara milik publik ataukah privat dalam Islam amat sangat dihargai. Ada wilayah yang hanya boleh menjadi konsumsi privat dan ada hal-hal yang berkaitan dengan kepemilikan publik. Akhlak pemanfaatan kedua wilayah ini sering kita abaikan dalam konteks hidup berkota.
Sebagai contoh paling kecil, sering kita dengar istilah, “Memangnya jalan ini milik nenek moyangmu?!”. Ungkapan demikian adalah ungkapan protes kepada orang yang tidak menghargai kepemilikan publik. Ketegangan seperti ini kerap kali terjadi.
Akhlak pemanfaatan jalan amat sering kita abaikan. Jalan merupakan area milik publik. Semua orang harusnya bisa menikmati fasilitas ini dengan nyaman dan tentram. Itulah sebab mengapa balapan liar menjadi terlarang, karena bisa menganggu aktivitas pengguna jalan yang lain.
Demikian pula dengan aktivitas demonstrasi atau unjuk rasa di kota. Demonstrasi atau unjuk rasa memang wajar dan sebuah kebutuhan untuk mengekspresikan bentuk protes atau kekecewaan terhadap suatu kebijakan. Namun, dengan menghambat atau berupaya menghentikan aktivitas pergerakan ekonomi kota, merupakan bentuk pengkhianatan terhadap hak kepemilikan publik. Hal yang sama tentu juga berlaku untuk kampanye massa politik dan aktivitas serupa dengannya.
Selain jalan, tentu saja ada banyak contoh lain yang bisa kita sebutkan terkait sikap atau perilaku dalam memanfaatkan hak milik publik. Seperti pelestarian ruang terbuka hijau, penggunaan sempadan jalan, pemanfaatan trotoar, dan lain-lain. Intinya satu: tidak merusak atau menghalangi orang memanfaatkan fasilitas publik yang ada di kota.
Bersih dan Hijau
   Akhlak lain yang patut kita perhatikan dalam hidup berkota ialah seperti budaya bersih dan hijau. Hidup bersih merupakan cerminan akhlak seorang muslim. Pepatah Arab menyebutkan bahwa “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” Wajah keimanan seseorang akan tercermin dalam hidup bersihnya.
   Dalam konteks hidup berkota, misalnya, kita diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan tempat. Ajaran ini sebetulnya sejak kecil telah ditanamkan kepada setiap orang di bangku pendidikan. Namun, masih saja kita melihat sampah berserakan di kota. Sampah justru menjadi suatu pemandangan yang sehari-hari kita nikmati.
   Pada musim penghujan, kita bisa merasakan dampak dari kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya. Drainase tersumbat, aliran sungai tak lancar, dan menyebabkan terjadinya genangan banjir.
   Sampah merupakan masalah tersendiri bagi suatu kota. Sebagai ummat Muhammad yang mencintai kebersihan, kita diperintahkan terlibat aktif dalam menyelesaikan permasalahan sampah ini. Dalam planologi dan ilmu lingkungan, dikenal 3R untuk mengatasi persoalan sampah: Reduce, Reuse, dan Recycle.
   Termasuk akhlak muslim yang baik bila dalam keseharian kita menjalankan prinsip hidup 3R ini. Yaitu mengurangi konsumsi produk yang berpotensi menghasilkan sampah berlebih, berupaya menggunakan atau memfungsikan kembali produk sampah yang masih bisa dimanfaatkan, dan kemudian mendaur-ulang sampah menjadi produk yang baru.
   Agama Islam amat sangat menghargai lingkungan hidup. Selain menyangkut kebersihan tadi, ummat Islam diajarkan untuk memperhatikan keseimbangan lingkungan, atau populer kita kenal sebagai green lifestyle.
Beberapa contoh kecil yang bisa disebutkan seperti menanam dan merawat pohon di kota, dan mengurangi konsumsi produk yang diperoleh dari penebangan pohon, Dalam Hadits riwayat Al-Bukhari, Rasulullah SAW menyampaikan, “Seorang muslim yang menanam pohon atau tanaman, lalu sebagian hasilnya dimakan burung, manusia, atau binatang, maka orang yang menanam itu mendapat pahala.”
   Selain itu, bentuk green lifestyle yang patut kita biasakan ialah seperti mengurangi penggunaan teknologi yang berpotensi mencemari lingkungan, penghematan air dan energi, membiasakan jalan kaki, lebih mengutamakan kendaraan umum daripada kendaraan pribadi, dan lain sebagainya.
   Akhlak seorang muslim adalah perwajahan dari agama Islam itu sendiri. Bagaimanapun juga, kota hadir untuk menampung segala heterogenitas. Pribadi-pribadi muslim seyogianya bisa menghadirkan wajah Islam dengan akhlak yang baik dalam rangka mewujudkan kota yang indah, tertib, teratur, dan juga damai.
   Terakhir, tentu saja selain dari semua campur tangan pribadi dalam membentuk wajah kota, peran pemerintah sebagai perancang kota sudah seharusnya bisa memberi keteladanan dalam konteks perencanaan sebuah kota. Kota bukanlah kumpulan bangunan fisik semata. Manusia-lah yang idealnya menjadi fokus cita-cita pembangunan. Perencana kota tidak boleh berhenti pada penataan tata ruang, melainkan (meminjam istilah Bambang Heryanto) harus sampai pada penataan tata ruang kehidupan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar