Jumat, 27 April 2012

Merapal Doa




"Doaku sederhana: semoga doamu terkabulkan"
**
Shuhufi Abdullah pernah mengisahkan prihal dua orang lelaki yang terdampar di Pulau.
Mungkin kamu sudah mendengar ceritanya.
Di saat terdampar dan harapan sudah hampir tiada itu, dua lelaki ini menengadahkan tangan,
seolah berlomba mencuri perhatian Sang Pencipta. Merapal doa-doa.

Rabu, 25 April 2012

Sedekat Diri



''Perjalanan yang paling panjang dan paling melelahkan adalah perjalanan masuk ke dalam diri kita sendiri.'' (Dag Hammersjold, mantan sekjen PBB)
**
Sudahkah kita mengenali diri sendiri? Ada saat di mana kita semestinya menarik diri dari diri-diri yang lain. Memisahkan beberapa jenak diri dari manusia-manusia Bumi. Membiarkan jiwa memantulkan cerminnya sendiri. Siapakah diri yang asing ini? 

Ada orang yang seumur hidup tidak pernah mengenali dirinya. Maka belajar tentang diri sendiri adalah pekerjaan kehidupan. Memahami keberadaan diri menjadi sesuatu yang niscaya.

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka sungguh dia akan mengenal Rabb (Tuhan)-Nya”. (Al-Hadits)

Sang Jurnalis: Sang Mata Pena yang Tajam[1]


Tugas mahasiswa itu
membaca, menulis, mendaki, dan
sekali-kali melawan pemerintah
(Soe Hok Gie)


Senin, 23 April 2012

Setapak Langkah

Sebelum ke Bantimurung, berkunjunglah sejenak ke Taman Leang-Leang. Di sana, sebuah taman dengan gua bersejarah. Gua jejak peradaban manusia. Pada tebing gua, akan kau temui telapak tangan manusia ribuan tahun yang lalu. Di mulut gua, akan kau jumpai kerang-kerang sisa makanan purba.

Tidak banyak yang berkunjung ke Taman Leang-Leang ini. Para wisatawan yang datang ke Maros biasanya bergegas menuju Bantimurung. Tak sabar menikmati air mancur, menghirup udara segar-segar, berteduh di rindang pepohonan, ataukah menjenguk kupu-kupu di sarang pelestarian.

Minggu, 22 April 2012

Beberapa Catatan tentang Kenangan



Bukankah selalu kubilang, hidup itu hanya untuk menyusun kenang-kenangan?
Segala tentang kenangan ini untuk kalian...

#
Kenangan selalu memperbaharui dirinya, selalu menyadarkanmu bahwa marah, ramah dan rumah bisa bertukar tempat seketika.(Aan Mansyur)

Kamis, 19 April 2012

Menunggu


Separuh hidup kita konon hanya untuk menunggu. Beberapa detik setelah keluar dari rahim Ibu, kita menunggu kapan Ibu mendekap dan menenangkan tangisan ketakutan kita menghadapi dunia. Di saat bersamaan pula, ada orang lain yang juga sedang menunggu. Menunggu kabar kelahiran kita, bagaimana keadaan Ibu, apakah kita lahir normal, berapa berat badan, dan lain sebagainya. Ibu, yang masih dalam keadaan letih, pasti juga sudah sangat menunggu bagaimana wajah buah hati yang ditungguinya selama sembilan bulan lamanya.

Selasa, 17 April 2012

Akhlak Berkota


Nabi Muhammad SAW diutus ke muka bumi tidak lain hanya untuk menyempurnakan akhlak manusia. Penyempurnaan dari kejahiliyaan menuju berperadaban. Maka, segala sikap dan perbuatan umat Muhammad haruslah senantiasa senafas dengan akhlak peradaban sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits. Akhlak dalam Islam menempati kedudukan tersendiri. Nasruddin Razak (1971:45) menyebutkan bahwa inti ajaran Islam ialah mengadakan bimbingan bagi kehidupan mental dan jiwa manusia. Sebab, hakekat manusia sesungguhnya adalah terdapat pada mental dan jiwa tersebut. Mental dan jiwa inilah yang nantinya mewujud dalam bentuk perilaku menjalani hidup.

Air Mata-Mata Air



Bubuk air mata?
Iya, jawabmu.

Bertahun-tahun aku masih menyimpan bubuk itu
pemberian ibu. Untuk apa, Ibu?
Ibu tak langsung menjawab

“Seduhlah saat kau butuh.”
“Bukannya aku masih punya air mata, Ibu?”
“Ini air mata ibu.”

Bertahun-tahun aku masih menyimpan bubuk itu
Tak pernah lagi kutanya mengapa
Saat pulang, ibu selalu menyambut gembira
pasti ada sajian di meja makan

 Makassar, 10 Maret 2012
 Puisi ini pernah dimuat di Harian Cakrawala Makassar

Rabu, 11 April 2012

Dahaga Panjang Lagu Bugis

       
Perkembangan musik nusantara sesungguhnya sejalan dengan tahapan-tahapan sejarah Indonesia. Dari masa sebelum Hindu-Buddha, masa masuknya pengaruh Hindu-Buddha, masa pengaruh Islam, masa kolonialisme, dan masa kini. Masa kolonialisme disebut juga sebagai masa masuknya peralatan musik modern di Indonesia.
Lagu-lagu daerah mengikuti perjalanan peralatan musik tersebut. Kalau dulu lagu-lagu bugis dimainkan dengan kecapi, sejak masuknya era peralatan musik modern, lagu bugis pun beralih menggunakan gitar, piano, drum, dan lain sebagainya.

Selasa, 10 April 2012

Mencari Jalan Gerakan (Pasca)mahasiswa

Transformasi gerakan dari aktivis ‘ekstra parlemen’ ke ‘intra parlemen’ sudah jamak dibicarakan. Kajian serius mengenai hal ini sudah pernah diulas dalam berbagai tulisan dan diskusi-diskusi pelataran. Namun, tentu saja masih memunculkan kontradiksi yang cukup tajam. Sebabnya ialah soal pertaruhan idealisme dan kejernihan gerakan.
Adalah wajar muncul keraguan dan kecurigaan kepada mantan aktivis ‘ekstra parlemen’ yang mencemplungkan dirinya ke ‘intra parlemen’. Pada beberapa literatur sejarah pergerakan, trauma demikian jelas adanya. Tak sedikit yang pada akhirnya dibungkam oleh harta dan kekuasaan. Tak sedikit yang berteman dengan dosa, yang dulu pernah menjadi musuh.